Senin, 27 April 2026

Banyumas

Telepon Yudi ke Dukun Aok, Minta Bantuan Kubur Jasad Aris Munadi tapi Ditolak

Terlilit utang ratusan juta, Yudi nekat habisi nyawa pengacara Aris Munadi. Ia sempat menelepon dukun untuk bantu kubur jasad.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: Daniel Ari Purnomo
Tribun Jateng/iwan Arifianto
KAKAK BERADIK TERSANGKA, Sayudi alias Yudi (baju biru kanan) dan adiknya Ignatius Juwanto alias Wanto tertunduk lesu saat dihadirkan dalam rilis kasus pembunuhan pengacara Aris Munadi di Mapolda Jateng, Senin (15/12/2025). 

Ringkasan Berita:
  • Yudi membunuh pengacara Aris Munadi karena terdesak utang ratusan juta dan ingin menguasai mobil korban.
  • Sebelum mengajak adiknya, Yudi sempat menelepon dukun bernama Aok untuk membantu mengubur jasad, namun ditolak.
  • Eksekusi dilakukan di tempat ziarah Panembahan Tunggul Wulung Cilacap menggunakan kayu akasia.
  • Polisi masih mendalami dugaan keterlibatan praktik penggandaan uang yang melibatkan tersangka dan saksi paranormal.
  • Kakak beradik Yudi dan Wanto dijerat pasal pembunuhan berencana.

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Tabir misteri kematian Aris Munadi, pengacara kondang asal Purwokerto, akhirnya tersingkap di Mapolda Jateng. Di balik jeruji besi, berdiri dua sosok kakak beradik, Sayudi alias Yudi (43) dan Ignatius Juwanto alias Wanto (34), yang kini harus mempertanggungjawabkan perbuatan keji mereka.

Namun, ada satu cerita menarik yang luput dari pandangan umum dalam pusaran kasus ini. Sebelum menyeret adiknya ke dalam lubang dosa, Yudi ternyata sempat meminta bantuan seorang paranormal alias dukun bernama Aok.

Dalam konferensi pers di Kota Semarang, Senin (15/12/2025), terungkap bahwa Yudi sempat panik usai menghabisi nyawa Aris. Dengan tangan berlumur darah, orang pertama yang terlintas di pikirannya untuk dimintai tolong menguburkan jasad korban bukanlah adiknya, melainkan Aok.

Baca juga: Gemetar Bawa Mobil Aris Munadi, Adik Pelaku Tinggalkan Jasad Advokat Purwokerto di Hutan

Hubungan Yudi dengan dunia klenik memang kental. Polisi bahkan mencium aroma praktik penggandaan uang di balik pertemanan mereka.

"Kami sedang mendalami rekan-rekan terkait dengan pegandaan uang terus terkait dengan paranormal ini sedang kita dalami ya," ujar Kapolresta Cilacap, Kombes Pol Budi Adhy Buwono kepada Tribun Banyumas.

Aok dan istrinya, S, sempat diamankan polisi. Namun, nasib baik masih berpihak pada sang dukun. Aok menolak mentah-mentah ajakan gila Yudi melalui sambungan telepon tersebut. Penolakan inilah yang memaksa Yudi beralih menelepon adiknya, Wanto, untuk datang membantu.

"Jadi pada saat tersangka Yudi mau menguburkan korban dia menelpon (Aok) diajak tapi tidak mau. Aok ini merupakan paranormal," ungkap Kombes Budi.

Gelap Mata Karena Utang

Motif di balik tragedi ini ternyata sangat klasik namun mematikan: uang. Yudi, yang sehari-hari terlihat religius dan hobi berziarah, ternyata menyimpan bara api dalam sekam. Ia terhimpit utang ratusan juta rupiah dan dikejar-kejar penagih utang.

Tekanan mental akibat intimidasi debt collector membuat akal sehatnya hilang. Ia mengincar mobil Toyota Calya hitam berpelat R 1927 RF milik korban yang baru dikenalnya sebulan terakhir lewat hobi ziarah yang sama.

"Tidak ada motif lain, hanya untuk menguasai mobil korban karena tersangka Yudi memiliki utang sampai ratusan juta," papar Kapolresta.

Niat jahat itu muncul begitu saja. "Tersangka berpikir bagaimana caranya biar dapat uang cepat makanya muncul niat membunuh korban untuk menguasai mobilnya," tambahnya.

Eksekusi di Tempat Keramat

Sabtu sore, 22 November 2025, menjadi hari terakhir bagi Aris Munadi. Yudi telah merancang skenario ziarah maut dengan rapi. Ia memilih Panembahan Tunggul Wulung di Jeruk Legi, Cilacap, sebagai lokasi eksekusi. Tempat ini dipilih bukan tanpa alasan; Yudi tahu betul lokasi keramat itu sunyi senyap saat sore menjelang.

Setibanya di pendopo panembahan, Yudi berpura-pura pamit buang air kecil. Padahal, ia mengambil kayu akasia yang sudah disiapkannya. Saat korban lengah, serangan mematikan itu terjadi.

"Nah, selepas itu, tersangka Yudi memukulkan sebanyak tiga kali ke bagian leher belakang. Korban jatuh tersungkur lalu dibawa ke mobilnya," jelas Kombes Budi menggambarkan detik-detik mengerikan tersebut.

Tak cukup memukul, Yudi memastikan korbannya tewas dengan mencekiknya di dalam mobil. Setelah itu, barulah Wanto datang. Kakak beradik ini kemudian membawa jasad korban sejauh 20 kilometer menuju Alas Kubangkaung, Kawunganten, untuk dikubur dalam lubang yang mereka gali sendiri.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved