Sabtu, 2 Mei 2026

Cilacap

Curah Hujan Tinggi dan Angin Kencang Intai Cilacap Akhir Tahun

Jelang Nataru, BMKG Cilacap peringatkan potensi cuaca ekstrem. Curah hujan tinggi hingga 500 mm dan angin kencang mengancam wilayah darat serta laut.

Tayang:
Tribun Banyumas/Rayka Diah Setianingrum
PANTAU CUACA, Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo menunjuk peta sebaran hujan di layar monitor, Sabtu (13/12/2025). BMKG memperingatkan potensi cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi yang mengancam wilayah Cilacap jelang libur Nataru. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, CILACAP - Rencana liburan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 bagi warga Cilacap tampaknya harus dibarengi dengan kewaspadaan ekstra. Langit di wilayah pesisir selatan Jawa ini diprediksi akan semakin sulit ditebak, menyimpan potensi guyuran hujan lebat dan cuaca ekstrem yang siap menyapa kapan saja.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap telah menyalakan "alarm" peringatan dini. Mereka meminta masyarakat tidak terlena dengan suasana liburan, mengingat perubahan atmosfer yang kini berlangsung sangat agresif.

Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, mengungkapkan bahwa bulan Desember ini menjadi fase krusial. Curah hujan diprediksi melonjak tajam, jauh di atas kondisi normal.

Baca juga: Waspada! BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem pada 4–10 Desember 2025

“Curah hujan bulan Desember ini berada pada kisaran 300 sampai 500 milimeter per bulan, yang sudah masuk kategori tinggi hingga sangat tinggi,” kata Teguh, Sabtu (13/12/2025).

Hujan Sangat Tinggi

Angka curah hujan yang menyentuh 500 milimeter tentu bukan sekadar statistik. Di balik angka tersebut, tersimpan ancaman nyata bagi keselamatan warga. Risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, tanah longsor, hingga sambaran petir dan angin kencang kini mengintai di depan mata.

Teguh mengingatkan bahwa dampak dari lonjakan intensitas hujan ini bisa sangat luas, baik di permukiman padat penduduk maupun di wilayah rawan longsor.

“Dengan intensitas hujan setinggi ini, potensi bencana hidrometeorologi tentu meningkat di berbagai wilayah,” ujarnya.

Berubah Hitungan Detik

Yang membuat situasi kian menegangkan adalah sifat atmosfer Cilacap yang saat ini sangat labil. Cuaca tidak lagi berganti secara perlahan, melainkan bisa berubah drastis dalam sekejap mata. Pagi yang cerah bisa mendadak berubah menjadi badai hanya dalam waktu singkat.

“Cuaca sekarang sangat dinamis, bahkan dalam hitungan detik bisa berubah, seperti yang kami amati di stasiun meteorologi,” ungkap Teguh menggambarkan kondisi di ruang pemantauan.

Menyadari bahaya yang mengintai, petugas BMKG kini bersiaga penuh. Mata mereka tak lepas dari layar monitor pemantau atmosfer selama 24 jam non-stop. Update peringatan dini terus disebarkan secara berkala setiap tiga jam agar warga punya waktu untuk bersiap.

“Kami terus memantau 24 jam penuh dan menyampaikan peringatan dini agar masyarakat dapat mengambil langkah antisipasi lebih awal,” jelasnya.

Waspada Puting Beliung

Kewaspadaan ini tidak hanya berlaku di darat. Di wilayah perairan selatan Cilacap yang menjadi "ladang nafkah" para nelayan, ancaman juga mengintai. Meski gelombang laut terpantau di kisaran 1,5 hingga 2,5 meter, BMKG meminta nelayan mewaspadai fenomena lain yang lebih mematikan, yakni bibit siklon tropis dan waterspout atau puting beliung laut.

Teguh memberikan tips sederhana membaca tanda alam. Jika setelah hujan turun terjadi panas terik selama beberapa hari, biasanya itu adalah pertanda buruk.

“Jika di musim hujan terjadi panas beberapa hari, awal hujannya sering disertai angin kencang atau puting beliung,” ujar Teguh.

Meski demikian, ada sedikit kabar melegakan dari sektor kelautan. Para nelayan di Cilacap kini dinilai lebih tangguh dan cerdas dalam membaca situasi berkat bekal ilmu dari Sekolah Lapang Cuaca Nelayan. Mereka tak lagi nekat menantang maut.

“Nelayan kini tidak lagi melaut dengan menantang badai, tetapi sudah mengetahui kapan waktu aman dan di mana ikan berada, sehingga keselamatan mereka jauh lebih baik,” pungkas Teguh.

 

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved