Riset Nusantara Centre: Industri Jamu Besar Budaya, Kecil Ekonomi
Riset Nusantara Centre dan PPJAI ungkap industri jamu Indonesia besar secara budaya namun kerdil secara ekonomi. Pemerintah didorong turun tangan.
Ringkasan Berita:
- Riset gabungan Nusantara Centre dan PPJAI (Oktober-Desember 2025) mengungkap bahwa kontribusi jamu terhadap PDB industri obat tradisional masih di bawah 0,3 persen.
- Mayoritas pelaku usaha jamu terjebak pada skala rumahan dengan adopsi teknologi minim, sehingga gagal meningkatkan kesejahteraan pekerja dan basis pajak negara.
- Peneliti mendesak intervensi pemerintah, seperti memasukkan produk jamu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta memberikan bebas pajak bagi UMKM pemula.
TRIBUNBANYUMAS.COM, JAKARTA - Lembaga riset Nusantara Centre dengan dukungan Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia (PPJAI) baru saja merilis data riil mengenai peran strategis industri jamu dalam perekonomian nasional.
Riset dengan metode campuran (mix method) yang dilakukan selama tiga bulan (Oktober-Desember 2025) tersebut menghasilkan temuan yang cukup mencengangkan.
Riset ini diinisiasi untuk menjadi fondasi pembuatan road map guna membangun lembaga khusus, yakni Badan Nasional Rempah dan Herbal Indonesia (Banrehi).
Baca juga: Industri Jamu Indonesia: Besar Secara Budaya, Kecil secara Ekonomi
Sumbang PDB Rendah
Kita memahami, industri jamu kerap diposisikan sebagai warisan budaya sekaligus identitas bangsa yang hadir lintas generasi.
Namun, di balik kuatnya legitimasi kultural tersebut, industri jamu Indonesia ternyata menyimpan ironi: besar potensi, tetapi kecil secara ekonomi.
Dalam struktur perekonomian nasional, posisi industri jamu tergolong marginal.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) periode 2019–2023, industri jamu secara agregat menyumbang sekitar 2–3 persen terhadap PDB industri pengolahan.
Namun jika dipilah lebih rinci, kontribusi jamu murni terhadap PDB industri obat tradisional masih sangat minim, yakni di bawah 0,3 persen pada 2022–2023.
Angka ini menegaskan adanya jurang besar antara kekuatan budaya dan realisasi ekonomi. Jamu dikenal luas, tetapi belum berhasil bertransformasi menjadi sektor bernilai tambah tinggi.
Terjebak Skala Rumahan
Hasil riset lapangan Nusantara Centre menunjukkan bahwa masalah utama industri jamu bukan terletak pada sisi permintaan.
Sebanyak 64 persen konsumen terbukti masih setia memilih jamu tradisional lokal.
Namun, kondisi pasar justru stagnan.
Sebanyak 46 persen pelaku usaha menyatakan permintaan relatif tetap, dan hanya 31 persen yang mengalami peningkatan penjualan.
Mayoritas pelaku memproduksi di bawah 500 unit per bulan, dan 73 persen di antaranya berada pada kategori produksi rendah meski usahanya sudah berumur 1 hingga 10 tahun.
Secara struktural, industri jamu didominasi oleh usaha kecil berbasis keluarga dengan proses produksi manual dan adopsi teknologi yang minim.
| Jamu Gratis dan Pijit Urut di Posko Mudik Pekuncen Banyumas Bikin Badan Pemudik Kembali Segar |
|
|---|
| Dampingi Safari Kaesang Pangarep, Dipa Yuwono Bertekad Jadikan Kebumen Kandang Gajah |
|
|---|
| Mencekam, Mahasiswa Banyumas di Iran Lihat Serangan Drone Hingga Internet Diputus |
|
|---|
| Akhirnya Terus Terang, Prabowo Ingatkan Kondisi Sulit Efek Perang Timur Tengah |
|
|---|
| Targetkan 500 Ribu Pekerja Migran Profesional, Pemerintah Bidik Jawa Tengah Jadi Mesin Utam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260226-jakarta-riset-industri-jamu-nasional.jpg)