Berita Banjarnegara
Waduk Mrica Terancam Jebol, Bupati Banjarnegara Minta Tolong Luthfi
Penyelamatan harus dilakukan dari hulu di kawasan pegunungan Dieng yang berbatasan dengan Wonosobo dan Batang, hingga ke area hilir
Penulis: khoirul muzaki | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA- Pemerintah Kabupaten Banjarnegara berupaya menyelamatkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Panglima Besar Soedirman atau Waduk Mrica yang kini berada dalam kondisi kritis.
Dengan tingkat sedimentasi yang sudah 93 persen, bendungan ini tidak hanya mengalami penurunan drastis dalam produksi energi, tetapi juga menyimpan potensi bencana kemanusiaan berskala besar.
Bupati Banjarnegara, dr. Amalia Desiana, mengatakan, penanganan Waduk Mrica tidak bisa lagi dilakukan secara parsial.
Mengingat padatnya populasi di sepanjang aliran sungai, potensi kerusakan atau jebolnya bendungan diproyeksikan dapat memicu dampak cukup besar, menyapu wilayah hilir sepanjang Sungai Serayu di beberapa kabupaten.
"Kami sangat membutuhkan kehadiran dan penguatan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mengintervensi penanganan ini secara menyeluruh.
Penyelamatan harus dilakukan dari hulu di kawasan pegunungan Dieng yang berbatasan dengan Wonosobo dan Batang, hingga ke area hilir, sekaligus menjembatani komunikasi ke Pemerintah Pusat," ujar dr. Amalia pada rembug pembangunan provinsi Jawa Tengah tahun 2026 di Pendopo Dipayudha Adigraha, Senin (17/5/2026).
Kompensasi petani
Sebagai langkah konkret, Bupati Banjarnegara mengusulkan formula kolaborasi yang melibatkan Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap di wilayah tengah dan hilir, serta Kabupaten Wonosobo di wilayah hulu.
Formula ini diwujudkan melalui Program Insentif Lingkungan berbasis lintas kabupaten.
Melalui skema imbal jasa lingkungan ini, pemerintah daerah di kawasan hilir yang berkepentingan langsung terhadap usia teknis Waduk Mrica seperti Banjarnegara dan Banyumas akan menyalurkan bantuan pendanaan atau kompensasi kepada Pemerintah Kabupaten Wonosobo atau kelompok tani di hulu.
Dana kompensasi tersebut diproyeksikan untuk membiayai para petani di kawasan Dieng agar bersedia mengalihkan lahan pertanian sayuran semusim mereka.
Lahan-lahan tersebut nantinya akan dikonversi menjadi hutan kemasyarakatan atau perkebunan komoditas keras seperti teh dan kopi, yang memiliki kemampuan mengikat air dan tanah jauh lebih baik.
Selain kompensasi finansial, draf penyelamatan ini juga merinci program agroforestri dan konsolidasi lahan guna membenahi pola tanam kentang murni yang merusak struktur tanah.
Beberapa langkah teknis yang diusulkan meliputi Penanaman pohon Makadamia atau kareker di sela-sela tanaman kentang untuk menahan laju erosi tanah secara alami.
Serta pembangunan bendung penahan (check dam) dan gully plugs di anak-anak Sungai Serayu wilayah Wonosobo untuk menangkap lumpur erosi sebelum masuk ke aliran utama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/amalia-desiana-waduk-mrica.jpg)