Berita Jateng
Kincir Air di Dusun Klowoh Wonosobo Jadi Sumber Listrik Warga sejak 1955
Tak banyak yang menyangka, aliran air di lereng pegunungan tersebut telah menjadi sumber listrik warga sejak sekitar tahun 1955
Penulis: Imah Masitoh | Editor: khoirul muzaki
Andi mengaku keberadaan mikrohidro membuat rumahnya tetap memiliki penerangan ketika listrik PLN mengalami pemadaman.
“Tidak pernah mati lampu di rumah karena ada PLTMH ini, tetap bisa menyala meskipun listrik PLN mati,” katanya.
Di tengah kondisi pegunungan yang kerap mengalami cuaca dingin dan berkabut, keberadaan listrik mandiri tersebut menjadi kebutuhan penting bagi warga sekitar.
Mengandalkan Aliran Air dari Mata Air Bogowonto
PLTMH tersebut bekerja menggunakan sistem sederhana. Air dialirkan untuk memutar kincir, lalu tenaga putaran diteruskan ke generator sebagai penghasil listrik.
“Sistem kerjanya cuma air mengalir, menggerakkan kincir ke penggerak yang sebelah itu jadi menggerakkan generator,” jelas Andi.
Meski terlihat sederhana, listrik dari mikrohidro itu masih menjadi sumber penerangan bagi 16 kepala keluarga di lokasi tersebut.
Namun, layanan listrik tidak menyala selama 24 jam penuh seperti listrik umum. Warga hanya menggunakannya mulai sore hingga pagi hari.
“Kalau sama listrik pada umumnya ngga ada bedanya, cuman ini nyalanya ngga 24 jam, tapi cuman dari jam 16.00 sore sampai jam 07.00 pagi,” katanya.
Untuk menjaga agar pembangkit tetap berjalan, warga dikenakan iuran berdasarkan penggunaan daya listrik. Dana tersebut digunakan untuk biaya perawatan peralatan.
“Ini membayar skala per watt untuk menjaga peralatan, kerusakannya itu. Kalau satu wattnya cuma kisaran 500 rupiah,” ujar Andi.
Menurutnya, biaya tersebut jauh lebih ringan dibanding penggunaan listrik konvensional.
Meski demikian, listrik mikrohidro saat ini masih lebih banyak digunakan untuk penerangan rumah.
Peralatan elektronik dengan daya besar sebenarnya bisa digunakan, namun warga memilih berhati-hati karena tegangan listrik belum stabil.
“Kalau kuatnya si kuat ya, tapi sementara warga nggak berani pakai soalnya ini kan ngga ada trafonya,” katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/PLTMH-Wonosobo.jpg)