Minggu, 19 April 2026

Berita Jateng

Pengusaha Jateng Pertimbangkan Rumahkan Karyawan sebelum PHK, Dampak Konflik Global

Konflik global membuat sejumlah perusahaan di Jateng ikut bergejolak. Perusahaan mempertimbangkan merumahkan karyawan sebelum melakukan PHK.

Editor: rika irawati
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
ILUSTRASI PHK - Pemutusan hubungan kerja (PHK) dan perumahan karyawan mengintai tenaga kerja di Jateng imbas konflik global yang berdampak pada dunia industri di Tanah Air, termasuk di Jateng. 

Ringkasan Berita:
  • Apindo Jateng mengungkap potensi PHK atau merumahkan karyawan akibat kondisi ekonomi yang bergejolak dampak konflik global.
  • Tak hanya itu, penyerapan tenaga kerja baru pun dipastikan berhenti.
  • Apindo Jateng berharap bantuan pemerintah berupa insentif untuk mendongkrak pasar daerah atau dalam negeri.

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG – Konflik global turut mengancam dunia usaha di Jawa Tengah. 

Pengaruh pada produksi barang dikhawatirkan turut berdampak pada tenaga kerja atau karyawan. 

Dewan Pertimbangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah Frans Kongi mengatakan, pelaku usaha di Jawa Tengah berupaya menahan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). 

Meski begitu, opsi merumahkan karyawan bisa menjadi pilihan jika kondisi ini tak membaik. 

"Paling-paling kita rumahkan saja dengan harapan situasi membaik." 

"Nah, kita juga harapkan pemerintah bantu kita," kata Frans, Jumat (17/4/2026), dikutip dari Kompas.com

Baca juga: Ini yang Terjadi Jika BBM Naik Imbas Perang Timur Tengah, PHK Ikut Mengintai

Gejolak internal perusahaan akibat kondisi ekonomi global juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja baru. 

Frans mengatakan, perusahaan juga akan menahan diri merekrut tenaga kerja baru. 

Hal ini tentu saja membuat angka pengangguran stagnan atau bahkan meningkat. 

Kenaikan Harga Bahan Baku 

Dijelaskannya, kondisi global saat ini berdampak pada dunia usaha di Indonesia. 

Hal ini dipicu konflik geopolitik hingga ketidakpastian kebijakan perdagangan internasional. 

"Menurun 20 sampai 30 persen mungkin itu," ujarnya. 

Selain itu, lonjakan harga bahan baku juga memperberat kondisi industri.  

Ia menyebut, harga plastik bahkan naik hingga 100 persen, memukul pelaku usaha yang sudah terlanjur mengikat kontrak lama.  

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved