Kamis, 16 April 2026

Berita Jateng

Dari Guyonan Jadi Tengkar, Pelajar Tewas Dianiaya Teman Sendiri di Sekolah Sragen

Misteri kematian seorang pelajar SMP di Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, akhirnya mulai terkuak. 

Editor: khoirul muzaki
Tribun Banyumas
Kapolres Sragen AKBP Dewiana Syamsu Indyasari saat press release bersama Kasat Reskrim AKP Catur, terkait penanganan perkara dugaan kekerasan terhadap anak yang berujung maut. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SRAGEN- Misteri kematian seorang pelajar SMP di Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, akhirnya mulai terkuak. 


Polisi memastikan, kematian anak berinisial WAP (14), siswa SMP Negeri 2 Sumberlawang, diduga kuat akibat tindak kekerasan fisik oleh teman sebayanya sendiri, DTP (14).


Ini disampaikan Kapolres Sragen AKBP Dewiana Syamsu Indyasari saat press release bersama Kasat Reskrim AKP Catur, terkait penanganan perkara dugaan kekerasan terhadap anak yang berujung maut.


Kapolres mengungkap, dari hasil penyelidikan dan penyidikan sementara, peristiwa tragis itu terjadi pada Selasa, 7 April 2026, sekitar pukul 11.10 WIB, tepatnya di dalam lingkungan sekolah Sumberlawang, Sragen. 


“Perkara ini adalah dugaan tindak pidana kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan anak korban atas nama WAP meninggal dunia. Saat ini penanganan perkara sudah masuk tahap penyidikan,” tegas AKBP Dewiana.


Dari hasil penyidikan sementara, polisi mengungkap,  insiden bermula dari interaksi spontan antar pelajar saat jam pelajaran berlangsung.

Saat itu, korban sedang mengikuti pelajaran IPS di kelasnya.

Sedangkan pelaku berada di kelas lain yang seharusnya mengikuti pelajaran Matematika, namun dalam kondisi tanpa pengawasan aktif guru.


Ini menjadi kesempatan bagi sejumlah siswa untuk keluar kelas. Saat itulah, terjadi "guyonan" yang berkembang menjadi saling ejek, lalu berubah menjadi saling menantang, hingga akhirnya berujung perkelahian.


“Fakta sementara yang kami peroleh, motif kejadian ini diduga dipicu oleh saling ejekan spontan antara korban dan pelaku, yang saat itu berkembang menjadi saling menantang,” ujar Kapolres.

Tangan kosong

Meski demikian, AKBP Dewiana menegaskan bahwa motif ini belum dianggap final. 

Penyidik masih terus menelusuri kemungkinan adanya latar belakang lain, termasuk apakah sebelum kejadian sudah ada dendam, konflik pribadi, atau gesekan sebelumnya antara keduanya.


“Penyidik sedang menarik lebih ke belakang ruang waktunya, untuk membuka secara utuh prolog kejadian. Jadi kami tidak berhenti hanya pada fakta di lokasi saat itu saja,” lanjutnya.


Pelaku diduga melakukan kekerasan seorang diri, tanpa keterlibatan pihak lain.
Bentuk kekerasan yang dilakukan, lanjutnya, tidak menggunakan alat bantu apapun, melainkan murni dengan tangan kosong dan kaki, melalui tindakan memukul dan menendang.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved