Sabtu, 25 April 2026

Pemprov Jateng

Waspada! KLB Campak Ditemukan di Cilacap, Klaten, dan Pati: Pemprov Jateng Genjot Imunisasi

Pemprov Jateng tetapkan status KLB Campak di Cilacap, Klaten, dan Pati. Wagub Taj Yasin dorong percepatan imunisasi MR untuk kejar ketertinggalan

Penulis: iwan Arifianto | Editor: Rustam Aji
Tribun Jateng/DOK PEMPROV JATENG
KLB CAMPAK - Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyebut ada KLB Campak di tiga kabupaten meliputi Cilacap, Klaten, dan Pati. Selain itu, terdapat dua daerah dengan status suspek atau terdapat kasus campak yaitu Brebes dan Kudus. Hal ini disampaikan Taj Yasin saat menerima kunjungan Komisi IX DPR RI, Kota Semarang, Senin (30/3/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menemukan Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak di tiga kabupaten meliputi Cilacap, Klaten, dan Pati.
  • Selain itu, terdapat dua daerah dengan status suspek atau terdapat kasus campak yaitu Brebes dan Kudus.
  • Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menjamin, Jateng masih dalam kondisi terkendali terhadap penyakit campak.  
  • Menurutnya, tingginya kasus campak merupakan dampak dari terganggunya layanan imunisasi saat pandemi Covid-19.

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah resmi menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk penyakit campak di tiga wilayah, yakni Kabupaten Cilacap, Klaten, dan Pati.

Selain ketiga daerah tersebut, status suspek kini juga dilaporkan muncul di Kabupaten Brebes dan Kudus.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengonfirmasi temuan kasus tersebut namun menegaskan bahwa situasi secara umum masih terkendali.

Menurutnya, lonjakan kasus ini merupakan dampak jangka panjang dari terganggunya layanan imunisasi rutin selama masa pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.

"Ini menjadi momentum untuk mengejar ketertinggalan. Kami terus menggerakkan kembali imunisasi dan memperkuat kampanye kepada masyarakat," ujar Taj Yasin dalam keterangan tertulisnya, Senin (30/3/2026).

Penyakit yang disebabkan oleh virus Morbillivirus ini dikenal memiliki daya tular yang sangat tinggi, terutama pada anak-anak di bawah usia lima tahun.

Baca juga: Pro-Kontra Usul Gubernur Jateng Soal ASN Lari ke Kantor: Solo Siap, Cilacap Sebut Tidak Signifikan

Taj Yasin menekankan bahwa penguatan imunisasi dasar lengkap adalah kunci utama untuk memutus rantai penularan, tidak hanya untuk campak tetapi juga penyakit menular lainnya.

Cakupan Melampaui Target, Namun Masih Ada 'Kantong' Penularan

Berdasarkan data tahun 2025, capaian vaksinasi Measles-Rubella (MR) di Jawa Tengah sebenarnya telah melampaui target, yakni mencapai 106,7 persen.

Namun, Wagub mengakui masih adanya wilayah-wilayah tertentu dengan cakupan rendah yang menjadi titik lemah penularan.

"Masih terdapat kantong-kantong wilayah dengan cakupan rendah yang berpotensi menjadi titik penularan. Ini yang terus kami lakukan advokasi dan percepatan," imbuhnya.

Edukasi Lawan Penolakan Vaksin

Di sisi lain, Ketua Komisi IX DPR RI, Felly Estelita Runtuwene, yang melakukan kunjungan kerja ke Pemprov Jateng, menyoroti tantangan sosial berupa penolakan imunisasi oleh sebagian orang tua.

Ia meminta pihak sekolah dan tenaga pendidik untuk lebih aktif memberikan pemahaman kepada wali murid.

Baca juga: Jateng Masih Jadi Sarang Perdagangan Daging Anjing dan Kucing, 5 Daerah Didesak Terbitkan Larangan

"Edukasi harus terus dilakukan secara kolaboratif, melibatkan guru, orang tua, hingga influencer. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dalam hal ini," tegas Felly.

Pemprov Jateng kini tengah melakukan pemetaan ulang terhadap daerah-daerah dengan risiko tinggi guna memastikan distribusi vaksin MR berjalan merata dan tepat sasaran di seluruh pelosok kabupaten/kota. (Iwn)

 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved