Berita Kendal
APF Kendal Minta Pemerintah Realisasikan Restrukturisasi untuk Cegah PHK Karyawan
Mettoni mengatakan, pihaknya sudah mengajukan restrukturisasi sejak 2012. Namun hingga kini belum mendapat respons serius dari pemerintah.
Penulis: Agus Salim Irsyadullah | Editor: Rustam Aji
Ringkasan Berita:
- Vice Presiden HRGA, PT Asia Pacific Fibers Tbk (APF) Kaliwungu Kendal, Mettoni meminta pemerintah merealisasikan restrukturisasi yang diajukan sejak 14 tahun silam.
- Hal ini dilakukan untuk menyelamatkan perusahaan dari bangkrut dan menghindari PHK massal karyawan.
- Mettoni menerangkan, pihaknya justru seolah mendapat intimidasi atas kehadiran petugas dari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Jakarta yang melakukan kunjungan ke pabriknya beberapa waktu lalu.
TRIBUNBANYUMAS.COM, KENDAL - Untuk mencegal PHK massal karyawan, Vice Presiden HRGA, PT Asia Pacific Fibers Tbk (APF) Kaliwungu Kendal, Mettoni meminta pemerintah merealisasikan restrukturisasi.
Ia mengaku restrukturisasi itu sudah diajukan sejak 14 tahun silam, sejak 2012.
Namun hingga kini belum mendapat respons serius dari pemerintah.
"Terkait restrukturisasi, kami sudah mengajukan proposal beberapa kali sejak tahun 2012," kata Mettoni, Minggu (15/2/2026).
Mettoni menerangkan, pihaknya justru seolah mendapat intimidasi atas kehadiran petugas dari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Jakarta yang melakukan kunjungan ke pabriknya beberapa waktu lalu.
Dia menyebut, rombongan petugas itu melanggar SOP dan tidak mematuhi peraturan tentang keselamatan di dalam perusahaan.
Baca juga: Pergerakan Tanah Jangli Meluas: 4 Rumah Roboh, 59 Warga Kampung Sekip Mengungsi di Musala
"Kami meminta restrukturisasi ke pemerintah agar pabrik ini tetap bisa beroperasi, bukan dengan cara tindakan sepihak dengan menggunakan KPKNL untuk melelang aset yg masih berproduksi,"
"Bahkan saat datang kali kedua tanggal 3 Februari kemarin, mereka juga membawa beberapa petugas kepolisian dari Polda Jateng dengan menakut-nakuti akan memasang police line. Dan mereka waktu datang juga arogan, dan merokok di area larangan merokok di dalam pabrik." paparnya.
Mettoni mengungkapkan, sejak berganti nama pada 2011 silam, pabrik yang memproduksi benang ini telah menjadi akar penghidupan bagi warga sekitar.
Namun gempuran produksi barang buatan China membuat produk benang di PT APF terkena imbasnya.
Pasang surut pemasaran mulai kerap terjadi, buntutnya pihak manajemen terpaksa merumahkan lebih dari separuh karyawannya.
"Saat ini karyawan di perusahaan kami tinggal 850, padahal awalnya itu bisa sampai 2600," tuturnya.
Dia mengatakan, sudah 20 tahun lebih pihaknya mengajukan restrukturisasi ke pemerintah pusat namun sampai hari ini belum direalisasikan.
"Kami minta restrukturisasi, silakan kalau Pemerintah ikut menjadi pemilik saham, yang penting karyawan masih tetap bisa bekerja," imbuhnya.
Mettoni menambahkan, rata-rata karyawan di perusahaannya telah bekerja di atas 35 tahun. Sehingga pihaknya akan berpikir ulang jika harus melakukan lay off ke karyawan.
Baca juga: Parkiran Curug Sikarim Wonosobo Longsor, 5 Motor Wisatawan Terseret, 3 Masih Dicari
| Tiket Laga Final Liga 4 Jateng Bisa Dibeli Langsung di Stadion Jatidiri Semarang, Harga Khusus |
|
|---|
| Pergerakan Tanah Jangli Meluas: 4 Rumah Roboh, 59 Warga Kampung Sekip Mengungsi di Musala |
|
|---|
| Ribuan Suporter Persak Kebumen Serbu Stadion Jatidiri, Pemda Siapkan 31 Bus |
|
|---|
| Parkiran Curug Sikarim Wonosobo Longsor, 5 Motor Wisatawan Terseret, 3 Masih Dicari |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/perusahaan-fiber-kaliwungu.jpg)