Wonosobo
Bahasa Jawa Dianggap Kuno, Pelajar SMP Wonosobo Justru Jadi Jawara se-Jateng
Di tengah anggapan bahasa Jawa mulai ditinggalkan anak muda, pelajar asal Wonosobo ini membuktikan sebaliknya lewat sebuah karya cerpen yang memukau.
Penulis: Imah Masitoh | Editor: Daniel Ari Purnomo
TRIBUNBANYUMAS.COM, WONOSOBO - Di tengah kekhawatiran banyak pihak akan lunturnya kecintaan generasi muda terhadap bahasa Jawa, secercah harapan justru datang dari dataran tinggi Wonosobo. Seorang pelajar SMP berhasil meruntuhkan anggapan bahwa bahasa ibu itu kuno. Lewat sebuah cerita pendek, ia membuktikan bahwa bahasa Jawa bisa menjadi medium sastra yang relevan, kuat, dan bahkan mengantarkannya menjadi yang terbaik se-Jawa Tengah.
Adalah Rangga Prisma Dewana, siswa SMP Negeri 1 Wonosobo, yang berhasil menorehkan prestasi membanggakan itu. Ia sukses menyabet Juara 1 dalam lomba Menulis Cerpen Berbahasa Jawa pada ajang bergengsi Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2025, yang digelar di Surakarta.
Kisah Remaja Berbahasa Jawa
Baca juga: Nasib Bawang Daun Lokal Wonosobo Meland-1 Kini Dipertaruhkan
Dalam kompetisi yang mempertemukan ratusan pelajar terbaik itu, Rangga tampil memukau. Karya cerpennya yang mengangkat tema kehidupan remaja, dibalut dengan pilihan kata (diksi) dan struktur cerita yang rapi, sukses mencuri hati dewan juri. Ia seolah memberi napas baru, menunjukkan bahwa problematika dan dinamika anak muda masa kini bisa diceritakan dengan begitu estetis melalui bahasa warisan leluhur.
Keberhasilan remaja kelahiran 28 Juli 2010 ini tentu bukan buah kerja semalam. Di baliknya, ada dukungan tak henti dari orang tuanya, Prijo Sasongko dan Salamah, serta bimbingan intensif dari para guru di sekolah.
Guru Pembimbing SMP Negeri 1 Wonosobo, Eko Hastuti, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Ia berharap, kemenangan ini menjadi api yang menyulut semangat siswa-siswi lainnya.
"Kami sangat bangga dengan Rangga. Kemenangan ini adalah bukti bahwa dengan ketekunan, dedikasi, dan dukungan yang tepat, siswa-siswi Wonosobo mampu bersaing dan unggul di tingkat provinsi. Kami berharap Rangga dapat menjadi inspirasi bagi seluruh pelajar di Wonosobo untuk terus menggali dan mencintai bahasa serta budaya daerah mereka," ujarnya, Senin (20/10/2025).
Gerakan Literasi Budaya
Kemenangan Rangga menjadi penegas bahwa FTBI bukan sekadar ajang perlombaan. Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dwi Laily Sukmawati, menjelaskan bahwa festival ini adalah puncak dari gerakan besar Revitalisasi Bahasa Daerah. Bahkan, dalam perhelatan kali ini, sebuah rekor MURI berhasil dipecahkan untuk "Penulisan Geguritan oleh Pelajar Terbanyak".
"Pada FTBI 2025 ini kami juga mengadakan Penulisan Geguritan oleh Pelajar Terbanyak yang diikuti oleh 1.120 pelajar dan diajukan sebagai Rekor Muri. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memunculkan semangat baru di kalangan pelajar untuk mencintai, memahami, dan mengembangkan bahasa Jawa," jelasnya.
Kini, prestasi yang diraih Rangga menjadi simbol harapan. Melalui tunas-tunas muda sepertinya, kekayaan bahasa daerah tidak hanya akan bertahan hidup, tetapi juga terus bertumbuh dan menemukan tempatnya di panggung literasi modern Indonesia.
| Sentil Kebiasaan Saat Bencana, BPS Wonosobo Gembleng 3 Desa Melek Data |
|
|---|
| Sukses Sedot 350 Ribu Turis Lewat Festival Balon, Wonosobo Legalkan Puluhan Grup Seni |
|
|---|
| Guru Ketahuan Ngonten Bakal Ditegur, Pemkab Wonosobo Resmi Batasi Main HP di Sekolah |
|
|---|
| Wamentan Pamer Setop Impor Beras di Ajang Kontes Sapi Raksasa Wonosobo |
|
|---|
| Jejak Kaki Bongkar Pencurian Sembako Rp526 Juta di Selomerto Wonosobo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20251016-Rangga-Prisma-Dewana.jpg)