Berita Jateng
Menonton Langsung Aksi Teatrikal Pertempuran Lima Hari di Tugu Muda Semarang
Area sekitar Tugu Muda Semarang disesaki warga yang menyaksikan Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: khoirul muzaki
"Sebagai orang luar semarang, tentunya ini sangat bermanfaat. Bagus dan edukatif: melestarikan budaya yang pasti dan mengedukasi terkait sejarah. Apalagi anak-anak muda, sangat excited. Selain melihat pentas pertempuran ini juga bisa sambil jajan-jajan," kesannya.
Kegiatan seperti ini menurut Meiwinda sangat penting untuk terus dilestarikan karena mampu menyatukan elemen sejarah, budaya, dan ekonomi lokal dalam satu momentum.
Pementasan teatrikal pertempuran menggambarkan perjuangan heroik rakyat Semarang melawan pasukan Jepang. Pertunjukan tersebut juga menjadi sarana edukatif yang mengenalkan sejarah lokal kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang digelar setiap tahun untuk mengenang peristiwa heroik yang terjadi pada 15–19 Oktober 1945. Momen ini menjadi simbol semangat perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajahan dan bentuk penghargaan atas jasa para pahlawan.
Pada peringatan ini, bertindak sebagai inspektur upacara, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Ahmad Luthfi menyampaikan rasa syukur dapat melaksanakan kegiatan ini di tempat yang elok dan sarat nilai historis.
"Alhamdulillah, petang hari ini kita berkumpul di sekitar Tugu Muda yang elok dan mempesona, melaksanakan peringatan yang penuh makna," ungkap Gubernur.
Tugu Muda, menurutnya, merupakan tinggalan sejarah yang memperkuat semangat para pejuang yang dahulu berjuang dengan semboyan "merdeka atau mati." Gubernur menegaskan, tempat ini menjadi pengingat akan keyakinan bahwa Tuhan akan selalu memberikan bimbingan menuju kebaikan.
"Kita harus belajar menghargai arti kemerdekaan, menghormati dengan tulus perjuangan para pahlawan, dan terus menghidupi semangat sejarah bangsa ini," tegasnya.
Ia juga menyampaikan, perjuangan belum berakhir. Tantangan masa kini, kata Gubernur, harus dihadapi dengan semangat yang sama seperti para pahlawan terdahulu. Dengan jumlah penduduk lebih dari 30 juta jiwa, Jawa Tengah memiliki keberagaman suku, ras, bahasa, dan potensi wilayah. Namun, menurutnya, semua itu bukanlah perbedaan yang memecah, melainkan kekuatan untuk bersatu
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga menyinggung sosok dr Kariadi yang telah memberikan banyak pelajaran tentang arti pengabdian. Teladan dr Kariadi dinilainya sangat relevan untuk diteruskan sebagai inspirasi membangun bangsa.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengajak generasi muda untuk memaknai sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang sebagai pijakan dalam menghadapi tantangan zaman modern.
Agustina juga menekankan, tragedi kemanusiaan yang terjadi di masa lalu adalah hasil dari akumulasi berbagai peristiwa sosial, politik, hingga miskomunikasi antar pihak. Ia menyebut, kesadaran terhadap akar sejarah sangat penting agar tragedi serupa tidak terulang dalam bentuk baru di era sekarang.
"Saya berharap pemuda dengan mempelajari sejarah pertempuran lima Hari Semarang ini, kemudian bisa menerapkannya di awareness-nya kejadian hari ini," kata Agustina.
Agustina menyoroti bahwa saat ini pertempuran fisik sudah banyak beralih menjadi "pertempuran ekonomi" dan "pertempuran pikir". Oleh karena itu, ia mengajak anak-anak muda untuk lebih kritis, memahami konteks zaman, serta menjaga ekosistem sosial dan ekonomi agar tidak terjadi konflik yang merusak.
"Nah, anak-anak sekarang harus belajar bagaimana menjaga ekosistem ini supaya tidak terjadi Pertempuran Lima Hari di Semarang di zaman ini, yang tentu bukan pertempuran raga, tetapi pertempuran pikir. Nah, itu tugasnya anak-anak muda," imbuhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Pertempuran-5-hari-semarangg.jpg)