Jumat, 8 Mei 2026

Tegal

Perjuangan Nenek 82 Tahun di Tegal Rintis Pabrik Dodol Keranjang

Nenek Mindayani (82) sukses merintis usaha dodol keranjang Sido Makmur di Tegal dari nol hingga raup omzet ratusan kilogram tiap harinya.

Tayang:
Tribun Banyumas/Wahyu Nur Kholik
KEMAS DODOL KERANJANG: Mindayani Wirjono (82) atau akrab disapa Minda, saat sedang mengemas kue dodol keranjang 'Sido Makmur' di tempat produksinya di Tegal, Sabtu (21/2/2026). Ia merintis usahanya sejak era 1980-an dari nol. 

Minda juga menyebutkan jika dirinya sempat ragu saat mengawali wirausaha dodol keranjang lantaran tak punya modal dan keahlian untuk membuatnya.

"Tapi saya di yakinkan sama Wa Nyamin, katanya dia siap membatu," terangnya.

Lantaran termotivasi oleh Wa Nyamin, Minda kemudian merintis usahanya dibantu oleh sang anak yang bernama Pak Waja, yang saat ini juga telah meninggal dunia.

Awalnya, kata Minda, ia hanya mampu memproduksi dodol keranjang sebanyak 20 kilogram per hari. Tak modern seperti saat ini yang dibantu mesin untuk membuat adonan, dahulu semua pekerjaan mengadon dodol dibuat secara manual dengan tangan.

Minda mengaku sangat bersyukur, saat ini usahanya bisa berkembang pesat hingga ke luar kota dengan produksi harian mencapai dua hingga tiga kuintal adonan.

"Produksinya ya biasa dua kwintal, tiga kwintal, jadinya ya dua kali lipatnya sih. Kira-kira ya 400 pcs, kan 200 kilo gula, 200 tepung ketan," tuturnya.

Lantaran harga bahan pokok yang merangkak naik, tahun ini Minda terpaksa menaikkan harga jual dagangannya. Untuk tepung ketan saja, harganya yang semula Rp 175 ribu kini menjadi Rp 190 ribu.

Kurangi Jumlah Karyawan

Sepinya pasar saat ini membuat Minda harus tega mengurangi jumlah karyawannya, yang semula berjumlah 50 orang kini hanya tersisa 20 orang.

"Untuk karyawan lebih sedikit, sekarang cuman 20 orang. Kalau tahun kemarin kan 50," pungkasnya.

Pantauan Tribunbanyumas.com, pengolahan adonan dodol keranjang ini berawal dari tepung ketan yang ditakar sesuai ukuran.

Kemudian, tepung dimasukkan ke dalam mesin untuk dicampur dengan air dan gula, lalu diaduk hingga beberapa jam. Barulah setelah kalis, di tangan-tangan cekatan karyawannya adonan tersebut dimasukkan ke dalam cetakan yang dilapisi plastik.

Setelah dicetak, adonan kemudian dimasukkan ke dalam kompor oven raksasa yang bisa merebus ratusan cetakan dodol keranjang sekaligus. Bahkan, untuk memasukkannya ke dalam kompor oven raksasa tersebut, karyawan Minda harus menggunakan alat bantu dongkrak.

Usai direbus selama beberapa jam, barulah dodol keranjang matang dan siap dipasarkan ke berbagai kota besar. (pet)

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 2/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved