Tegal
Perjuangan Nenek 82 Tahun di Tegal Rintis Pabrik Dodol Keranjang
Nenek Mindayani (82) sukses merintis usaha dodol keranjang Sido Makmur di Tegal dari nol hingga raup omzet ratusan kilogram tiap harinya.
Penulis: Wahyu Nur Kholik | Editor: Daniel Ari Purnomo
Ringkasan Berita:
- Mindayani Wirjono (82) sukses membangun pabrik rumahan dodol keranjang 'Sido Makmur' di Kota Tegal yang dirintisnya dari bawah.
- Ia merintis usaha sejak 1980-an atas dorongan pembantu tetangganya, bermodal dapur dari gedebok pisang yang pernah ambruk.
- Jelang Imlek tahun Kuda Api 2026, produksi dan omzet menurun sehingga jumlah karyawannya terpaksa dikurangi dari 50 menjadi 20 orang.
TRIBUNBANYUMAS.COM, TEGAL - Di tengah hingar bingar Kota Tegal, jarang yang mengetahui ada sosok nenek berusia 82 tahun yang kini sukses menjadi produsen rumahan kue keranjang atau dodol keranjang.
Ia adalah Mindayani Wirjono, pengusaha wanita di Jalan Belimbing, Kecamatan Tegal Barat, yang menamai produk dodol keranjangnya dengan merek 'Sido Makmur'.
Siapa sangka, dari dapur yang semula hanya terbuat dari gedebok (batang) pohon pisang untuk memasak, kini ia mempunyai puluhan karyawan yang memproduksi dodol keranjang hingga tiga kuintal setiap harinya.
Baca juga: Jelang Imlek, Produksi Kue Keranjang Sari Eco Kebumen Menurun Dibanding Tahun Lalu
Minda bercerita, dapur gedebok pisangnya itu bahkan pernah ambruk tertimpa guyuran hujan deras di masa lalu.
"Dulu saja tidak punya dapur, pakainya gedebok. Sudah seperti itu terus kehujanan ambruk, saya sampai nangis," ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Kini, dodol keranjang buatannya pun laris manis sampai ke kota-kota besar di wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, dan DIY.
"Pengirimannya biasa Bandung, Semarang, Solo, Pekalongan dan Kerawang," ungkapnya.
Minda mengungkap, pada perayaan Imlek tahun Kuda Api ini, pesanan dodol keranjangnya terbilang merosot dari perayaan Imlek tahun sebelumnya.
"Untuk permintaan saat ini banyak yang turun, yang di Karawang saja turun sampe 50 persen. Bilangnya pada sepi sepi, dagangane sepi. Faktornya mungkin ekonomi melemah," tuturnya.
Kisah Jatuh Bangun
Tak sukses begitu saja, Minda menyebut proses jatuh bangun telah dilaluinya selama berwirausaha sejak tahun 1980-an. Saat itu, ia masih berusia sekitar 40 tahun.
Saat awal meniti karier dari nol, ia merintis usaha bersama pembantu tetangganya yang kini sudah meninggal dunia. Berstatus sebagai ibu dari delapan anak, ia harus memutar otak demi menghidupi keluarganya.
Saat itu, Minda juga memiliki toko bernama Sido Makmur. Nama tersebutlah yang kini sudah terkenal menjadi merek dodol keranjangnya.
"Ide awal usaha kue keranjangnya justru datang dari pembantu tetangga. Saya dahulu merintis dari bawah bersama Wa Nyamin sekarang sudah almarhum," tuturnya.
Minda menuturkan, Wa Nyamin mengaku iba kepada dirinya karena mempunyai banyak anak. Karena Wa Nyamin mempunyai bekal pengalaman pernah bekerja di produsen dodol keranjang, maka ia menawarkan kepadanya untuk memulai usaha tersebut.
"Kata Wa Nyamin saat itu dia kasihan sama saya karena saya hidupnya susah dan anaknya banyak. Kemudian dimulailah usaha dodol keranjang ini," ungkapnya.
Sempat Merasa Ragu
Minda juga menyebutkan jika dirinya sempat ragu saat mengawali wirausaha dodol keranjang lantaran tak punya modal dan keahlian untuk membuatnya.
"Tapi saya di yakinkan sama Wa Nyamin, katanya dia siap membatu," terangnya.
Lantaran termotivasi oleh Wa Nyamin, Minda kemudian merintis usahanya dibantu oleh sang anak yang bernama Pak Waja, yang saat ini juga telah meninggal dunia.
Awalnya, kata Minda, ia hanya mampu memproduksi dodol keranjang sebanyak 20 kilogram per hari. Tak modern seperti saat ini yang dibantu mesin untuk membuat adonan, dahulu semua pekerjaan mengadon dodol dibuat secara manual dengan tangan.
Minda mengaku sangat bersyukur, saat ini usahanya bisa berkembang pesat hingga ke luar kota dengan produksi harian mencapai dua hingga tiga kuintal adonan.
"Produksinya ya biasa dua kwintal, tiga kwintal, jadinya ya dua kali lipatnya sih. Kira-kira ya 400 pcs, kan 200 kilo gula, 200 tepung ketan," tuturnya.
Lantaran harga bahan pokok yang merangkak naik, tahun ini Minda terpaksa menaikkan harga jual dagangannya. Untuk tepung ketan saja, harganya yang semula Rp 175 ribu kini menjadi Rp 190 ribu.
Kurangi Jumlah Karyawan
Sepinya pasar saat ini membuat Minda harus tega mengurangi jumlah karyawannya, yang semula berjumlah 50 orang kini hanya tersisa 20 orang.
"Untuk karyawan lebih sedikit, sekarang cuman 20 orang. Kalau tahun kemarin kan 50," pungkasnya.
Pantauan Tribunbanyumas.com, pengolahan adonan dodol keranjang ini berawal dari tepung ketan yang ditakar sesuai ukuran.
Kemudian, tepung dimasukkan ke dalam mesin untuk dicampur dengan air dan gula, lalu diaduk hingga beberapa jam. Barulah setelah kalis, di tangan-tangan cekatan karyawannya adonan tersebut dimasukkan ke dalam cetakan yang dilapisi plastik.
Setelah dicetak, adonan kemudian dimasukkan ke dalam kompor oven raksasa yang bisa merebus ratusan cetakan dodol keranjang sekaligus. Bahkan, untuk memasukkannya ke dalam kompor oven raksasa tersebut, karyawan Minda harus menggunakan alat bantu dongkrak.
Usai direbus selama beberapa jam, barulah dodol keranjang matang dan siap dipasarkan ke berbagai kota besar. (pet)
| Wali Kota Tegal Dedy Yon Bongkar 7 Warung Aceh Penjual Obat Keras |
|
|---|
| Kesaksian Zami Saat Banjir Terjang Guci: Merenung dan Menangis Lihat Kolam Lenyap |
|
|---|
| Detik-detik Mencekam Banjir Bandang Guci, Kolam Pancuran 13 Lenyap Ditelan Arus |
|
|---|
| Usulkan UMK Naik 6,30 Persen, Upah di Kota Tegal Jadi Rp 2,5 Juta |
|
|---|
| Duka di Pantai Tegal, Hanif Ditemukan Tak Bernyawa Usai Kapal Jukung Terbalik Dihantam Ombak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260221-tegal-kisah-dodol-keranjang.jpg)