CERITA PARA KIAI
Dr Umarulfaruq Abubakar: Dari Lantai Masjid ke Mimbar Dakwah, Sempat Jadi Cleaning Service di Mesir
Baginya, cahaya itu bukan sekadar tradisi, melainkan penanda mimpi yang mulai tumbuh sejak kecil.
Hidup di Mesir bukan perkara mudah. Selama tujuh kali Idulfitri, ia tidak dapat pulang. Komunikasi dengan keluarga masih melalui surat yang balasannya bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Untuk mencukupi kebutuhan, ia bekerja sambil belajar. Ia menjadi petugas kebersihan, membantu pekerjaan di masjid, serta menerjemahkan buku. Semua dilakukan agar tetap dapat bertahan dan melanjutkan studi
“Pengalaman itu membentuk pikiran dan perasaan,” ujarnya.
Ujian terberat datang pada 2005. Dua tahun setelah keberangkatannya, sang ayah wafat. Ia masih mengingat pesan terakhir yang diterimanya, “Selamat belajar, Nak.” Keesokan harinya, kabar duka itu datang. Ia ingin pulang, tetapi terkendala visa dan biaya.
Sejak saat itu, Ramadhan, rindu, dan kehilangan menjadi bagian dari proses pendewasaannya.
Baca juga: Bukan Sekadar Jumpscare, Film Horor Pocong Merah di Curug Cipendok Bawa Pesan Menyentuh Soal Ibu
Menjaga Sanad dan Menghafal Kalam Ilahi
Bagi Umar, belajar di Mesir bukan sekadar meraih gelar akademik. Ia memanfaatkan kesempatan untuk menuntaskan hafalan Al-Qur’an dan menempuh sanad qiraat. Menurutnya, Mesir adalah salah satu pusat keilmuan Al-Qur’an dengan jaringan sanad yang kuat. Proses itu kemudian ia lanjutkan di Indonesia bersama Syekh Abdul Hamid Isa Qurqur Al-Mishri.
Menghafal Al-Qur’an, menurutnya, adalah jalan menuju kebahagiaan batin. Ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan sarana pembersihan jiwa.
Cinta dan Kepulangan
Pada 2011, ia kembali ke Indonesia. Namun, langkahnya tidak langsung menuju Gorontalo. Ia bertolak ke Banjarmasin untuk melamar perempuan yang kemudian menjadi pendamping hidupnya. Pada 4 Syawal 2011, keduanya resmi menikah.
Kini, di tengah kesibukan sebagai pengajar dan pimpinan lembaga, ia berusaha menyediakan waktu untuk keluarga. Selepas salat Isya, ia memilih berada di rumah, menyimpan telepon genggam, dan bercengkerama dengan anak-anaknya.
Menulis sebagai Warisan
Selain berdakwah, Umar juga menulis. Setidaknya 18 buku telah ia terbitkan. Menulis, baginya, adalah cara merawat gagasan agar tetap hidup.
“Menulis itu bekerja untuk keabadian,” katanya.
Ia ingin ilmu yang dituliskan dapat menjadi warisan manfaat ketika dirinya kelak tiada.
Baca juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Besok Kabupaten Banyumas, Ramadan Hari ke-2 Jumat 20 Februari 2026
| Bukan Sekadar Jumpscare, Film Horor 'Pocong Merah' di Curug Cipendok Bawa Pesan Menyentuh Soal Ibu |
|
|---|
| Film Pocong Merah Karya Sutradara Ajibarang Banyumas Siap Menghantui Bioskop Mulai Hari Ini |
|
|---|
| Jadwal Imsak dan Buka Puasa Besok Kabupaten Banyumas, Ramadan Hari ke-2 Jumat 20 Februari 2026 |
|
|---|
| Geger Dentuman di Perut Bumi Bikin Warga Banjarnegara Cemas, tak Terdeteksi BMKG |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/UMARULFARUQ.jpg)