Minggu, 12 April 2026

CERITA PARA KIAI

Dr Umarulfaruq Abubakar: Dari Lantai Masjid ke Mimbar Dakwah, Sempat Jadi Cleaning Service di Mesir

Baginya, cahaya itu bukan sekadar tradisi, melainkan penanda mimpi yang mulai tumbuh sejak kecil.

Editor: Rustam Aji
Tribunnews.com/Tribun-Video.com/ Faiz 
KISAH KIAI - Dr Umarulfaruq Abubakar Lc., M.H.I, Ketua Majlis Syar'i PPTQ Ibnu Abbas Klaten | Ketua Formaqi. 

Ringkasan Berita:
  • Dr Umarulfaruq Abubakar Lc., M.H.I, Ketua Majlis Syar'i PPTQ Ibnu Abbas Klaten | Ketua Formaqi
  • Perjalanan menuju mimbar dakwah tidaklah singkat. 
  • Umarulfaruq Abubakar pernah menyapu lantai dan menjadi petugas kebersihan demi bertahan hidup di negeri orang.

TRIBUNBANYUMAS.COM - Dari sebuah desa kecil di Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, langkah seorang anak lelaki dimulai. Di kampung yang tenang itu, cahaya Ramadhan selalu datang dengan cara yang istimewa. 

Lampu-lampu minyak dinyalakan pada tiga malam terakhir bulan suci dalam tradisi Tumbilotohe. Cahaya kecil berkelip di sepanjang jalan, seolah menjadi penanda harapan.

Anak itu bernama Dr Umarulfaruq Abubakar, Lc., M.H.I. Kini, ia dikenal sebagai Ketua Majelis Syari PPTQ Ibnu Abbas Klaten dan Ketua Forum Maahid dan Madaris Quran Indonesia. 

Namun, perjalanan menuju mimbar dakwah tidaklah singkat. Ia pernah menyapu lantai dan menjadi petugas kebersihan demi bertahan hidup di negeri orang.

Cahaya dari Kampung Halaman

Masa kecil Umar dihabiskan di lingkungan religius. Rumahnya berdampingan dengan Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta, tempat ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah atas.

Lantunan Ayat Suci dan nasihat para guru menjadi irama keseharian.

“(Masa kecil) dihabiskan di Gorontalo sampai SMA, baru berangkat ke Mesir,” ujar Umarulfaruq saat ditemui di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Ibnu Abbas, Klaten, Jawa Tengah, Jumat (13/2/2026).

Tradisi Tumbilotohe menjadi kenangan yang selalu ia bawa. Pada malam ke-27 Ramadan, meski telah jauh dari kampung halaman, ia tetap menyalakan lampu sebagai simbol harapan.

Baginya, cahaya itu bukan sekadar tradisi, melainkan penanda mimpi yang mulai tumbuh sejak kecil.

Baca juga: Keistimewaan Bulan Ramadhan: Pahala Puasa akan Dibalas Langsung oleh Allah SWT

Mimpi ke Negeri Para Ulama

Di pesantren, Umar kecil bertemu sejumlah guru dari Mesir. Salah satunya adalah Syekh Abdussalam Fatkhi Harun. Suatu hari, ketika usianya sekitar 12 tahun, sang syekh berkata, “Umar, nanti kalau sudah besar belajar ke Mesir. Saya yang jemput.”

Kalimat itu terpatri kuat. Terlebih, ayahnya pernah memiliki mimpi yang sama, tetapi terhalang biaya. Mimpi itu kemudian menjadi amanah keluarga.

Tujuh tahun berselang, ia benar-benar berangkat ke Mesir pada 2003. Pertemuan kembali dengan sang guru menjadi momen haru sekaligus awal ujian perantauan. Pesan ayahnya sebelum berangkat selalu ia ingat, agar tidak menangis supaya tidak meninggalkan kesedihan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Tujuh Lebaran Tanpa Pelukan

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved