Purbalingga
Cacat yang Memikat, Benang Antih Purbalingga Justru Jadi Rebutan Pasar Amerika dan Eropa
Ketidaksempurnaan benang antih buatan tangan warga Tumanggal Purbalingga justru diminati pasar AS dan Eropa. 700 perajin terlibat lestarikan tradisi.
Penulis: Farah Anis Rahmawati | Editor: Daniel Ari Purnomo
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA - Suara jantra kayu berderak pelan di sebuah teras rumah sederhana di Desa Tumanggal, Kecamatan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga. Irama klasik itu mengiringi gerak tangan keriput namun cekatan dari seorang wanita paruh baya.
Tangan kanannya memutar roda kayu, sementara tangan kirinya dengan lembut meniti kapas putih agar terjalin tanpa putus. Matanya tajam, tak lepas dari putaran benang yang terbentuk perlahan. Di sisinya, Surati mengawasi. Ia memastikan setiap inchi benang yang lahir memiliki 'nyawa', sebuah proses manual yang dikenal warga setempat sebagai ngantih.
Siapa sangka, aktivitas sederhana yang nyaris digilas zaman ini justru menjadi harta karun bagi Desa Tumanggal. Kapas yang mereka putar bukanlah kapas biasa, melainkan limbah pabrik dari Semarang dan Batang yang tak lagi sanggup diolah mesin modern.
Baca juga: Terapkan TEFA, SMKN 1 Bukateja Purbalingga Ajari Siswa Praktik Langsung Layaknya Dunia Kerja
"Proses manual ini yang disebut dengan ngantih," kata Surati saat ditemui Tribunbanyumas.com, Minggu (14/12/2025).
Jejak Zaman Jepang
Benang antih bukan sekadar komoditas, melainkan saksi sejarah yang hidup. Surati adalah penjaga api tradisi ini, meneruskan perjuangan ayahnya, Wartasja, sang pelopor di desa tersebut.
Jauh sebelum mesin tekstil meraja, warga Tumanggal sudah mandiri sandang. Keterampilan ini mendarah daging, diwariskan turun-temurun sebagai strategi bertahan hidup di masa sulit.
"Dulu yang pertama merintis itu orang tua saya, Pak Wartasja. Ngantih ini sebenernya sudah jadi budaya sejak zaman Jepang. Waktu itu hampir semua warga disini menenun sendiri pakaiannya. Sekarang tenunnya sudah tidak ada, tinggal satu kain lama yang masih saya simpan, yaitu kain dari hasil mengantih," kenang Surati.
Pertemuan Tak Sengaja
Sempat meredup, denyut nadi benang antih kembali berdetak kencang pada tahun 1982. Titik baliknya terjadi lewat sebuah pertemuan tak sengaja di pameran pembangunan.
Kala itu, Wartasja yang menjabat kepala desa, bertemu dengan Kadir, seorang arsitek tekstil visioner asal Pekalongan.
"Saat itu ada pameran pembangunan di kawedanan, sekarang rumah Wakil Bupati. Saat itu Pak Kadir melihat ada gulungan benang lawe atau benang dari hasil mengantih, di stand Kecamatan Kejobong, dulu Tumanggal masih masuk Kejobong," tutur Surati menceritakan momen bersejarah itu.
Tertarik dengan tekstur unik benang tersebut, Kadir membelinya dan menyulapnya menjadi kain di Pekalongan. Hasilnya memukau, membuatnya kembali ke Tumanggal untuk menemui sumbernya.
"Benang itu, kemudian dibeli sama Pak Kadir, dibuat kain di Pekalongan. Kemudian dia kembali lagi dan bertanya dari mana asal benang tersebut. Dari situ beliau pun datang ke Tumanggal, rumah bapak saya, dan beliau meminta agar warga dikumpulkan untuk diberikan wawasan supaya bisa membuat kain dari benang tersebut," jelasnya.
Sejak saat itulah, 'benang emas' Tumanggal bangkit. Dari celana tradisional hingga kain gendong, produksi terus bergulir. "Dulu, waktu masih dipegang sama saya kita kirimnya benang untuk dijadikan kain," imbuh Surati.
Transformasi Barang Jadi
Estafet pelestarian kini berada di tangan generasi kedua, Nanik Risyani, menantu Surati yang mulai mengelola usaha sejak 2013. Di tangan Nanik, benang antih tak lagi sekadar bahan setengah jadi. Ia berani berinovasi.
"Sejak diurus sama anak saya kami mulai mengolah benang menjadi kain. Terus lama kelamaan kami juga mulai mengolah kain menjadi barang jadi di tahun 2020," ujar Surati bangga.
Tembus Pasar Amerika
| Nenek Teriak Minta Tolong, Balita di Purbalingga Meninggal Tersedak Jelly |
|
|---|
| Longsor Bukit Tewaskan Ibu di Sangkanayu Purbalingga, Hancurkan 3 Dapur |
|
|---|
| Nazar Sembuh Cedera, Tukang Siomay Mudik Jalan Kaki Cilacap-Pemalang |
|
|---|
| Kunker ke Purbalingga, Menkes Puji Program Digitalisasi SPHERES |
|
|---|
| Cuaca Ekstrem Purbalingga, Pohon Tumbang Sempat Tutup Jalan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20251214-Benang-Antih.jpg)