Berita Banyumas
HUT Banyumas ke-455: Mahasiswa Gelar Mimbar Bebas Soroti 14 Ribu Anak Putus Sekolah
Mahasiswa Banyumas gelar mimbar bebas di Alun-alun Purwokerto. Soroti isu kemiskinan, 14.000 anak putus sekolah, hingga pengangguran perempuan
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: Rustam Aji
Ringkasan Berita:
- Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Serikat Mahasiswa Bergerak (Semarak) Banyumas menggelar aksi mimbar bebas di Alun-alun Purwokerto, Senin (23/2/2026).
- Aksi tersebut dilakukan sebagai ruang refleksi atas berbagai persoalan yang dinilai masih dihadapi Kabupaten Banyumas di usianya 455 tahun.
- Berbagai persoalan mendasar di daerah Banyumas masih terus berulang dari masa kepemimpinan Bupati Achmad Husein hingga Bupati Sadewo Tri Lastiono saat ini.
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO – Merespons momentum Hari Jadi Kabupaten Banyumas ke-455, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Serikat Mahasiswa Bergerak (Semarak) menggelar aksi mimbar bebas di Alun-alun Purwokerto, Senin (23/2/2026).
Aksi ini menyoroti berbagai persoalan mendasar yang dinilai masih menghantui warga Banyumas, mulai dari sektor pendidikan hingga ketimpangan ekonomi.
Koordinator aksi yang juga perwakilan BEM FH Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Setyawan, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan ruang refleksi publik.
Mahasiswa menilai visi besar pembangunan daerah belum sepenuhnya menyentuh akar permasalahan masyarakat.
"Bupati memiliki visi besar dalam pengentasan kemiskinan dan pendidikan, namun faktanya masih terdapat ancaman putus sekolah yang mencapai sekitar 14.000 anak di Banyumas. Ini adalah persoalan serius di tengah usia kabupaten yang sudah lebih dari empat abad," tegas Setyawan.
Baca juga: Nasib 560 PKL Jalan Bung Karno Banyumas Jika Nanti Ditertibkan
Sorotan Ekonomi dan Ketenagakerjaan Selain isu pendidikan, mahasiswa memberikan rapor merah terhadap kondisi ekonomi masyarakat.
Mahasiswa menilai Upah Minimum Kabupaten (UMK) Banyumas masih belum mampu mencukupi kebutuhan hidup layak di tengah mahalnya biaya pendidikan dan kebutuhan pokok.
Setyawan juga memaparkan data ketenagakerjaan yang kontras. Meskipun angka pengangguran laki-laki menurun, tingkat pengangguran perempuan di Banyumas justru dilaporkan meningkat lebih dari satu persen dalam periode 2024 hingga 2026.
"Ada empat persoalan utama yang kami soroti: sektor pertanian, pendidikan, pengangguran, serta kondisi ekonomi masyarakat. Di sektor pertanian, petani di beberapa wilayah masih mengeluhkan sulitnya memperoleh pupuk," tambahnya.
Isu Lingkungan dan Nasional
Dalam orasi yang disampaikan secara bergantian, massa aksi juga menyinggung persoalan lingkungan seperti pengundulan lahan dan isu-isu nasional yang berdampak pada daerah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Meski aksi ini bertajuk mimbar bebas dan tidak membawa tuntutan spesifik kepada pemerintah daerah, mahasiswa berharap refleksi ini menjadi bahan evaluasi bagi Bupati Sadewo Tri Lastiono.
Baca juga: TPPD Optimis Kebijakan Opsen Pajak tak Gerus Citra Ahmad Luthfi - Taj Yasin
Mahasiswa menyayangkan kondisi di lapangan di mana massa aksi lebih banyak berhadapan dengan barikade aparat daripada masyarakat umum yang melintas.
"Budaya Banyumas adalah terbuka terhadap dialog. Kami berharap kritik ini diterima sebagai upaya memperbaiki daerah tanpa harus menimbulkan ketegangan atau tindakan kekerasan," pungkas Setyawan.
Aksi yang berlangsung tertib ini diharapkan mampu memicu diskusi kolektif antara masyarakat dan pemerintah daerah guna mencari solusi atas "pekerjaan rumah" Banyumas yang tak kunjung usai dari masa kepemimpinan sebelumnya. (jti)
Baca juga: Aksi Spontan Berbuntut Hukum: Warga Desa Palon Blora Dipolisikan Usai Rusak Jalan Cor
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/mimbar-bebas-mahasiswa.jpg)