Banyumas

Petani Banyumas Sambut Raperda Asuransi, Minta Prioritaskan Sawah Tadah Hujan

Petani Banyumas menyambut positif Raperda Asuransi Pertanian yang baru disetujui. Namun, mereka meminta prioritas diberikan pada sawah tadah hujan.

Tribun Banyumas/Permata Putra Sejati
ASURANSI PETANI - Aktivitas petani saat menyemprot padi dengan pupuk cair pestisida alami di lahan sawah warga Desa Karangsalam Kidul, Kecamatan Kedungbanteng, Selasa (6/1/2026). Petani berharap asuransi pertanian diprioritaskan untuk lahan tadah hujan. (TRIBUN BANYUMAS/PERMATA PUTRA SEJATI) 

Ringkasan Berita:
  • Petani di Banyumas menyambut baik disetujuinya Raperda Fasilitasi Asuransi Pertanian.
  • Perwakilan Gapoktan Srijaya, Sartam, menekankan pentingnya sosialisasi masif dari BPP sebelum pelaksanaan.
  • Petani meminta prioritas asuransi diberikan kepada sawah tadah hujan yang lebih berisiko dibanding irigasi teknis.
  • Kejelasan alur pelaporan saat terjadi gagal panen (puso) menjadi sorotan utama petani.

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Kabar disetujuinya Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Fasilitasi Asuransi Pertanian menjadi angin segar bagi sektor agraris di Kabupaten Banyumas.

Kebijakan ini dinilai sebagai bentuk kehadiran pemerintah dalam melindungi nasib petani.

Sartam, perwakilan dari Gapoktan Srijaya Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, menyebut program ini sangat dibutuhkan.

Baca juga: Antisipasi Serangan Hama, Petani Kebumen Semprot Pestisida

Namun, ia memberikan catatan penting agar kebijakan ini tidak sekadar formalitas.

Sosialisasi Sangat Penting

Menurut Sartam, kesuksesan program ini bergantung pada pemahaman petani di tingkat bawah.

Ia meminta Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) bergerak aktif.

"Insyaallah kami menyambut baik asuransi pertanian ini. Tapi tentu harus disertai sosialisasi dari BPP agar petani paham tindak lanjutnya," kata Sartam kepada Tribunbanyumas.com, Selasa (6/1/2026).

Ia menegaskan, BPP memiliki peran sentral sebagai jembatan informasi, terutama menjelang masa tanam.

Alur tanggung jawab harus jelas agar petani tidak kebingungan.

"Harus jelas alurnya. Ada yang menyampaikan, ada yang bertanggung jawab. Kalau ada pertanyaan petani, siapa yang menjawab, mestinya begitu," ujarnya.

Prioritas Tadah Hujan

Lebih lanjut, Sartam berharap distribusi kuota asuransi lebih bijak.

Ia menyarankan agar fokus utama diberikan pada lahan sawah tadah hujan, bukan yang memiliki irigasi teknis baik.

"Yang paling butuh itu tadah hujan, bukan irigasi teknis," tegasnya.

Ia mencontohkan wilayah Kecamatan Purwojati yang mayoritas sawahnya tidak memiliki irigasi, sehingga risiko serangan tikus, wereng, hingga puso cukup tinggi.

Hal ini berbeda dengan desanya, Tinggarjaya, yang memiliki irigasi teknis mumpuni dan jarang mengalami puso total.

Mekanisme Distribusi Kuota

Terkait mekanisme, Sartam menyarankan distribusi dimulai dari Dinas Pertanian Kabupaten, diteruskan ke BPP Kecamatan, baru kemudian dibagi ke desa-desa berdasarkan luas lahan.

"Kalau misalnya 180 hektare, itu dibagi per kecamatan berapa. Nanti BPP kecamatan membagi lagi ke desa," jelasnya.

Hal ini penting untuk memastikan keadilan pembagian kuota asuransi yang anggarannya terbatas.

Sumber: Tribun Banyumas
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved