Berita Cilacap
Jejak Dakwah Wali di Masjid Agung Darussalam Cilacap
satu-satunya petunjuk mengenai usia masjid kini hanya tersisa dari tulisan ukiran yang terdapat pada beduk tua
Penulis: Rayka Diah Setianingrum | Editor: khoirul muzaki
Bentuk arsitektur tersebut membuat masjid ini sering dibandingkan dengan Masjid Agung Demak yang juga dikenal sebagai salah satu pusat sejarah penyebaran Islam di Jawa.
“Masjid Agung Darussalam ini masih menggunakan model joglo seperti Masjid Demak, berbeda dengan banyak masjid modern yang sudah menggunakan kubah besar,” jelasnya.
Selain bentuk arsitektur, ciri khas lain yang menjadikan masjid ini unik adalah jumlah saka guru atau tiang utama yang jauh lebih banyak dibandingkan masjid pada umumnya.
KH Muslihun mengatakan, Masjid Agung Darussalam memiliki 20 saka guru yang menjadi simbol filosofi penting dalam ajaran Islam.
“Biasanya masjid hanya memiliki empat saka guru, tetapi di Masjid Agung Darussalam ada 20 tiang utama yang melambangkan sifat wajib Allah dan sifat mustahil bagi Allah,” ungkapnya.
Jumlah tiang yang banyak itu kini dilapisi kayu jati, meskipun struktur di dalamnya sudah menggunakan beton setelah proses renovasi.
“Tiang beton itu kemudian ditutup dengan kayu jati lama agar tetap menjaga nilai sejarah dan filosofi yang ada sejak dahulu,” katanya.
Secara keseluruhan jumlah tiang penyangga di dalam Masjid Agung Darussalam mencapai sekitar 36 tiang, meski yang menjadi simbol utama tetap 20 saka guru tersebut.
Keunikan arsitektur itu membuat banyak tamu dari luar daerah tertarik saat berkunjung ke Masjid Agung Darussalam Cilacap.
“Banyak tamu yang datang ke sini mengatakan masjidnya bagus tetapi tiangnya banyak sekali, padahal itu justru simbol yang harus dijaga,” tutur KH Muslihun.
Di tengah perkembangan zaman, Masjid Agung Darussalam Cilacap tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat sekaligus ruang syiar Islam di wilayah perkotaan.
Menurut KH Muslihun, masyarakat Islam di Cilacap memiliki karakter yang unik karena hidup berdampingan dengan budaya pesisir dan tradisi lokal.
“Karena Cilacap berada di wilayah pantai, maka masyarakatnya memiliki perpaduan antara tradisi Jawa dan Islam, misalnya adanya tradisi sedekah laut,” jelasnya.
Meski demikian, ia menilai kehidupan keagamaan masyarakat Cilacap tetap berkembang dengan baik, terutama karena banyaknya pondok pesantren yang tersebar di wilayah kabupaten tersebut.
“Cilacap termasuk daerah dengan jumlah pesantren yang cukup banyak di Jawa Tengah sehingga kehidupan keagamaannya juga cukup kuat,” katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Masjid-Agung-Darussalam-Cilacap-cap.jpg)