Cilacap
Jangan Cuma Dimsum, Titik Nol Cilacap Diminta Jual Mundul
Kawasan Titik Nol Cilacap dinilai mirip Paris. Akademisi Unugha saran pedagang tak hanya jual dimsum, tapi juga jajanan jadul seperti mundul dan budin
Penulis: Rayka Diah Setianingrum | Editor: Daniel Ari Purnomo
Ringkasan Berita:
- Kepala LP2M Unugha Cilacap, Fahrur Rozi, menilai kawasan Titik Nol Kilometer Cilacap sukses menjadi ikon baru yang tetap ramai dikunjungi warga meski saat hujan.
- Ia membandingkan atmosfer kawasan tersebut dengan monumen ikonik di kota besar lain, bahkan menyebutnya mirip Tugu Napoleon di Paris.
- Fahrur menyarankan agar pelaku UMKM di kawasan tersebut tidak hanya menjual makanan modern, juga menghidupkan kuliner Cilacap seperti budin goreng dan mundul untuk menarik segmen orang tua dan nostalgia.
TRIBUNBANYUMAS.COM, CILACAP - Wajah baru Kabupaten Cilacap di kawasan Titik Nol Kilometer atau Kota Lama mulai menampakkan pesonanya.
Kawasan ini dinilai tak sekadar menjadi ruang publik, namun telah bertransformasi menjadi pusat aktivitas sosial dan ekonomi baru yang menjanjikan.
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (Unugha) Cilacap, Fahrur Rozi, M.Hum., mengakui daya tarik kawasan tersebut.
Baca juga: Usul Nama Serambi Nusakambangan untuk Nol KM Cilacap, Bagus Gak?
Ia menceritakan pengalamannya saat berkunjung tiga pekan pasca peresmian. Meski diguyur hujan, antusiasme warga tak surut.
"Saya membayangkan Titik Nol ini seperti tugu-tugu ikonik di kota lain, semacam Tugu Napoleon Bonaparte di Paris atau kawasan ikonik di Kediri," ujarnya kagum.
Menurutnya, kerlap-kerlip lampu dan aktivitas warga yang berswafoto bersama keluarga menciptakan suasana hangat di tengah rintik hujan.
Saran Kuliner Tradisional
Melihat geliat pedagang di sisi kanan dan kiri jalan, Fahrur meyakini kawasan ini akan menjadi ladang emas bagi UMKM.
Namun, ia memiliki catatan khusus bagi para pelaku usaha kuliner.
Ia mendorong agar lapak-lapak di sana tidak melulu didominasi jajanan kekinian yang menyasar anak muda.
"Kalau bisa, selain makanan kekinian seperti dimsum atau makanan modern lainnya, juga disajikan makanan tradisional seperti budin (singkong) goreng, mundul, kacang, dan jajanan lama lainnya," saran Fahrur.
Kehadiran kuliner jadul (jaman dulu) ini dinilai penting untuk membangkitkan nostalgia.
Pasalnya, pengunjung Titik Nol bukan hanya Gen Z, tetapi juga generasi tua yang ingin bersantai menikmati masa lalu.
"Orang tua juga ingin merasakan kembali kenangan masa lalu sambil duduk santai dan berfoto-foto di Titik Nol," tambahnya.
Jika dikelola dengan konsisten antara modernitas tempat dan kearifan lokal kuliner, ia yakin geliat ekonomi di Cilacap akan semakin melesat. (ray)
| Gaji Sebulan Tak Kebeli Emas 1 Gram, Seribu Buruh Cilacap Siap Kepung Jalanan |
|
|---|
| Dexlite Tembus Rp23 Ribu, SPBU di Kroya Cilacap Mendadak Lengang |
|
|---|
| Ramai Isu El Nino Godzilla Landa Cilacap, Ini Penjelasan Resmi BMKG |
|
|---|
| Niat Matikan Lampu Rumah, Warga Wanareja Malah Temukan Mayat di Kolam |
|
|---|
| Damkar Cilacap Evakuasi HP Bocah Terjebak di Rel Jalan Sawo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260125-Fahrur-Rozi.jpg)