Menurutnya, banyak kapal asing hanya mau menerima dollar AS.
Baca juga: Sukses Kembangkan Kopi, Petani Muda di Cilacap Ini Ingin Robusta Karanggintung Tembus Pasar Ekspor
Persoalan lain adalah masih dominannya penggunaan dollar AS dalam kerja sama internasional, semisal hibah dan pinjaman.
"Jadi, pengembalian cicilan pokok dan bayar bunganya juga tetap menyedot dollar AS," kata dia.
Dampak Global
Rencana meninggalkan dollar AS bukan hanya muncul di ASEAN. Organisasi kerja sama antara Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS) bahkan berniat membuat mata uang sendiri.
Apalagi, anggota BRICS disebut akan terus bertambah banyak dalam waktu dekat.
Dengan banyaknya negara yang meninggalkan dollar AS, Bhima menyebut, hal ini akan berdampak pada pelemahan dollar.
"Jadi, semakin banyak negara yang melakukan dedolarisasi, menggunakan mata uang masing-masing negara, efeknya ya dollar AS bisa melemah," ujarnya.
Apalagi, AS kini sedang mengalami krisis, termasuk di antaranya adalah krisi perbankan dan fundamental ekonomi yang kian melemah.
Kendati demikian, butuh waktu panjang untuk benar-benar bisa melemahkan dollar AS terhadap mata uang lain.
"Karena kalau kita lihat, indeksnya naik turun tapi masih di atas level 100 dollar index. Jadi menunjukkan bahwa dollar masih cukup perkasa dibandingkan mata uang dominan lainnya," kata dia. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Indonesia Dorong Negara ASEAN Tinggalkan Dollar AS, Apa Dampaknya?".