UMKM Cilacap

Batik Sekarwaru Nusawungu Cilacap, Hasil Karya Tangan Ibu-Ibu Desa Klumprit yang Terus Berkembang

Tradisi itu tidak hilang dan bahkan tetap dilanjutkan oleh generasi berikutnya. 

|
Editor: Rustam Aji
anak magang ump/inaya
BATIK SEKARWARU - Batik produksi khas warga Desa Klumprit Cilacap, kini terus berkembang. 

Harga batik di tempat ini sangat bervariasi. Batik cap dibanderol mulai dari Rp 125 ribu hingga Rp 175 ribu.

Sementara itu, batik tulis berkisar Rp350 ribu sampai Rp600 ribu, bahkan bisa mencapai Rp2,5 juta untuk jenis kain sutra. 

Batik cap biasanya paling banyak diminati oleh kalangan menengah ke bawah.

Baca juga: Jadwal Festival Layang-layang Internasional di Kota Semarang, Akan Diikuti 13 Negara

Sementara itu, batik tulis lebih banyak diminati oleh masyarakat menengah ke atas.

Tak jarang seperti PKK, hajatan, seragam kantor, maupun wisuda juga sering kali memesan batik di sini. 

Menghindari dari kejenuhan, Rosita terus berinovasi dalam desain motif.

Ia memberi ruang bagi pembatik untuk mengeksplorasi pola baru agar batik dari Desa Klumprit tetap berkembang. Namun tetap dengan nilai tradisional di dalamnya. 

Usaha ini buka setiap pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

Selain datang langsung ke tempat, para pembeli biasanya juga dapat menghubungi lewat nomer WhatsApp untuk bertanya terlebih dahulu.

Fleksibilitas inilah yang membuat pelanggan merasa nyaman. 

Lewat Batik Sekarwaru, Rosita tak hanya menjalankan usahanya saja, melainkan juga turut menjaga denyut budaya di tengah perkembangan zaman.

Di tengah gempuran produk massal, batik tradisional Klumprit ini tetap hidup dan memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.

Kecintaan terhadap batik di Desa Klumprit tak lepas dari suasana lingkungan yang mendukung. Pembatik di Desa Klumprit sudah terbiasa melihat proses membatik sedari kecil, sehingga membentuk kedekatan emosional dengan warisan budaya ini.

Bagi sebagian orang, membatik bukan hanya soal pekerjaan, melainkan juga sebagai cara untuk menjaga tradisi. 

“Di sini memang banyak yang senang membatik, karena dari dulu sudah terbiasa melihat mbah-mbahnya dulu yang sekarang sudah tua bikin batik. Buat belajar katanya, jadi lama-lama suka dan bisa,” ujar Rosita saat ditemui di Batik Sekarwaru pada Rabu (23/7/2025).

(Mahasiswa Magang UMP/Inaya Fatul Ifa)

Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved