Berita Jateng
LENGKAP Daftar Agenda Dua Abad Hari Jadi Kabupaten Wonosobo
Seluruh prosesi Hari Jadi Kabupaten Wonosobo terasa lebih dari sekadar tontonan
Penulis: Imah Masitoh | Editor: khoirul muzaki
Doa-doa dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan, sekaligus penguatan spiritual bahwa pembangunan hari ini berakar pada perjuangan para pendahulu.
Tapa Bisu
Tapa Bisu merupakan ritual sunyi yang menjadi bagian penting dari perayaan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo.
Saat malam Tapa Bisu seluruh lampu di pusat kota Wonosobo benar-benar dipadamkan.
Jalan-jalan berubah gelap, hanya disinari cahaya obor yang dibawa oleh ratusan orang dari Desa Plobangan.
Tapa Bisu bukan sekadar kirab malam. Ini adalah perjalanan batin, sebuah doa dalam diam yang menyatukan harapan, penghormatan, dan kesadaran spiritual.
Rombongan pembawa obor memulai perjalanan dari depan Klenteng Hok Hoo Bio Wonosobo, menyusuri jalanan kota tanpa suara menuju Pendopo Kabupaten Wonosobo.
Hanya langkah kaki dan nyala obor yang menjadi penanda bahwa di balik gelapnya malam, ada kekuatan doa yang sedang bergerak.
Dalam prosesi ini, dua elemen sakral dibawa dengan penuh khidmat yaitu air suci dari Tuk Sampang dan segenggam tanah dari Makam Ki Ageng Wonosobo (siti bantolo).
Keduanya diambil dalam prosesi Bedhol Kedhaton yang berlangsung siang harinya di Desa Plobangan, tempat yang dahulu menjadi pusat pemerintahan pertama Wonosobo.
Di pendopo akan disambut oleh bupati untuk serah terima air suci dari Tuk Sampang dan segenggam tanah dari Makam Ki Ageng Wonosobo (siti bantolo) yang dibawa rombongan.
Hastungkoro di Pendopo Bupati
Prosesi Hastungkoro (ujubing umbul donga) merupakan sebuah ritual saat Hari Jadi Kabupaten Wonosobo yang selalu dilaksanakan.
Hastungkoro adalah prosesi doa bersama, sebuah bentuk penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa, yang mengandung harapan besar agar Wonosobo dan seluruh warganya selalu dalam lindungan-Nya.
Suasana Hastungkoro begitu khidmat. Di tengah malam yang hening, dengan latar alunan kidung doa dan kehadiran unsur pimpinan daerah.
Prosesi ini menjadi ruang bagi semua yang hadir untuk merefleksikan perjalanan dua abad Wonosobo dari tanah yang dijaga leluhur, hingga menjadi kabupaten yang terus tumbuh dan berkembang.
Birat Sengkolo
Prosesi Birat Sengkala menjadi puncak spiritual dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Wonosobo. Prosesi ini melambangkan sebuah penghayatan.
Diawali dengan penyerahan simbolik Songsong Agung yaitu payung kebesaran sebagai lambang pelindung rakyat, dan Tombak Katentreman pusaka yang merepresentasikan kekuatan penjaga ketenteraman.
Prosesi dilanjutkan bupati dengan ritual ngracik tirta suci yakni mencampurkan air dari tujuan sumber mata air yang telah diambil sebelumnya. Air ini menjadi sarana pembawa berkah dan tolak bala.
Prosesi kemudian bergerak menuju pusat Alun-alun Wonosobo, tepat di bawah naungan rindang beringin kurung, tempat yang dipercaya sebagai titik pusat keseimbangan.
Di sana, segenggam tanah dari Desa Plobangan cikal bakal pemerintahan Wonosobo ini ditanam secara simbolis. Tanah ini adalah lambang akar sejarah, pengingat dari mana semua bermula.
Dalam suasana yang sunyi dilanjutkan dengan pemercikan air suci yang telah dicampur tadi ke empat penjuru mata angin. Pemercikan dilakukan dengan menggunakan daun dadap serep.
Tiap cipratan air mengandung doa, agar segala bentuk sengkal, kesialan, malapetaka, dan rintangan tersingkir dari jalan Wonosobo ke depan.
Pisowanan Agung
Puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo dilaksanakan di Alun-alun Wonosobo melalui prosesi Pisowanan Agung.
Ribuan warga Wonosobo akan turut hadir dalam upacara yang kental nuansa budaya dan tradisi ini.
Prosesi dimulai dengan penjemputan Bupati dan Wakil Bupati oleh Forkopimca dari kompleks Pendopo Kabupaten Wonosobo.
Rombongan berjalan dari pendopo menuju alun-alun, diiringi musik tradisional, serta kirab gunungan sayur dari masing-masing kecamatan.
Dalam tradisi Pisowanan Agung, masyarakat "sowan" atau menghadap bupati untuk mendengarkan sabdo utama, sebuah pidato utama dari Bupati Wonosobo.
Upacara ini juga menyajikan pembacaan sejarah Wonosobo sebagai refleksi perjalanan panjang kabupaten ini.
Simbol kemakmuran dan rasa syukur, gunungan sayur, menjadi bagian paling ditunggu masyarakat.
Usai upacara, warga beramai-ramai memperebutkan gunungan yang berisi hasil bumi, menciptakan suasana meriah dan penuh semangat kebersamaan.
Acara ini menjadi wujud penghormatan terhadap nilai budaya lokal serta mempererat hubungan antara pemerintah daerah dan masyarakat.
Prosesi Ruwat Rambut Gimbal
Tradisi ruwat cukur rambut gimbal, sebuah ritual khas daerah Wonosobo turut dilaksanakan dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Wonosobo.
Peserta yang mengikuti prosesi ini adalah anak-anak berambut gimbal yang telah mendaftarkan diri sebelumnya.
Menurut tradisi, rambut gimbal tumbuh secara alami dan hanya pada anak-anak tertentu yang dipercaya sebagai titisan Kyai Kolodete, tokoh leluhur masyarakat Wonosobo. Anak-anak ini disebut sebagai anak-anak pilihan.
Prosesi pemotongan tidak dapat dilakukan sembarangan, melainkan harus atas kemauan sang anak sendiri.
Biasanya, keinginan tersebut disertai dengan sebuah permintaan atau bebono anak gimbal yang wajib dipenuhi orang tua sebelum prosesi pemotongan rambut dilakukan.
Setelah rambut gimbal dicukur, rambut tersebut kemudian dilarung di Telaga Menjer, sebagai simbol pembersihan dan pembuangan unsur negatif dari dalam diri sang anak, sekaligus sebagai bentuk rasa syukur dan pengharapan akan kehidupan yang lebih baik.
Ruwat cukur rambut gimbal menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya lokal serta menarik minat masyarakat untuk lebih mengenal tradisi spiritual dan kearifan lokal khas Wonosobo.
Pentas Seni Kerakyatan di Alun-alun
Rangkaian panjang Hari Jadi Kabupaten Wonosobo selalu ditutup dengan hiburan pentas seni kerakyatan di alun-alun.
Masyarakat tumpah ruah memenuhi Alun-alun Wonosobo untuk menyaksikan beragam hiburan pertunjukan seni ataupun musik yang disuguhkan.
Setiap tahunnya pertunjukan hiburan yang disuguhkan berbeda-beda untuk menghibur masyarakat Wonosobo secara gratis.
Panggung meriah dengan gemerlap lampu dan sorak-sorai penonton menjadikan malam puncak perayaan begitu meriah.
Hiburan pentas seni kerakyatan ini menjadi simbol penutup rangkaian perayaan yang menyatukan semua elemen masyarakat dalam satu semangat kebersamaan.
Dengan acara ini, Hari Jadi Kabupaten Wonosobo tidak hanya menjadi peringatan historis, tetapi juga momentum untuk memperkuat identitas budaya dan mempererat tali persaudaraan di tengah masyarakat. (ima)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Kirab-hari-jadi-Banjarnegara.jpg)