Berita Banyumas
Cilongok Sumbang Kasus Stunting Terbanyak di Banyumas, Kesiapan Orangtua untuk Punya Anak Disorot
Kecamatan Cilongok mencatatkan kasus stunting terbanyak di Banyumas. Kesiapan pasangan suami istri menjadi orangtua menjadi satu di antara penyebab.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Kecamatan Cilongok menjadi wilayah dengan angka stunting tertinggi di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Secara keseluruhan, berdasarkan data Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Banyumas, kasus stunting di Kota Satria dialami 14.000 anak.
Kepala Bidang Pengendalian Penduduk DPPKBP3A Banyumas, Henny Soetikno mengatakan, masalah stunting atau gagal tumbuh anak memang menjadi sorotan.
"Setelah Kecamatan Cilongok, kasus stunting terbanyak berikutnya ditemukan di Kecamatan Purwokerto Barat dan Purwokerto Selatan," katanya, Jumat (27/6/2025).
Baca juga: 150-200 Bayi di Banyumas Meninggal Setiap Tahunnya, Tujuh Hari Pertama setelah Kelahiran Masa Kritis
Henny mengungkapkan, kasus stunting dipicu beragam faktor.
Di antaranya, faktor ekonomi, minimnya edukasi, serta kesadaran tentang pola asuh, dan gizi.
Selain itu, juga kesiapan pasangan suami istri menjadi orang tua.
"Kami temukan banyak pasangan menikah muda, sekitar 10–20 persen dari total pasangan usia subur," jelasnya.
Selain belum siap menjadi orangtua, kondisi fisik ibu juga belum siap melahirkan.
Hal ini dapat meningkatkan kasus kematian pada ibu dan anak.
"Mereka, secara fisik belum siap."
"Hal ini meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, salah satunya preeklamsia (hipertensi di masa kehamilan)," imbuh Henny.
Kematian 150-200 Bayi Per Tahun
Data dari DPPKBP3A Banyumas, angka kematian bayi di Kota Satria di kisaran 150-200 setiap tahunnya.
Kematian bayi tersebut terjadi terutama pada masa perinatal atau tujuh hari pertama setelah kelahiran.
Baca juga: Rangkuman Kendala Masa Pendaftaran SPMB Banyumas, Server Down Paling Bikin Emosi Orangtua Murid
Henny mengungkapkan, kasus kematian bayi baru lahir ini juga dipicu beragam faktor, semisal kelahiran tinggi, kasus stunting, dan kematian ibu.
"Angka kematian ibu melahirkan umumnya disebabkan hipertensi dalam kehamilan, kanker, dan penyakit jantung," katanya.
Pemkab Banyumas pun terus melakukan upaya pencegahan.
Beberapa program yang digiatkan di antaranya pengendalian jumlah penduduk, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, hingga memperbanyak edukasi lewat program Satu Desa Satu Bidan. (*)
Gaji Anggota DPRD Banyumas Bisa Tembus Rp 45 Juta per Bulan, Warga Kaget |
![]() |
---|
Lagu Di Tepinya Sungai Serayu Masih Diputar di Stasiun Daop 5 Purwokerto, Kena Royalti? |
![]() |
---|
Warga di Bantaran Sungai Banyumas Diminta Waspada Bencana, Hujan Lebat Masih Berpotensi Terjadi |
![]() |
---|
Sembilan Tahun Pacaran Akhirnya Kandas, Warga Kembaran Banyumas Siap Gugat Mantan Pacar Rp1 Miliar |
![]() |
---|
Harga Beras dan Minyak Goreng Premium di Banyumas Masih Tinggi, Telur Ayam dan Tepung Relatif Stabil |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.