Minggu, 10 Mei 2026

Lebaran 2025

Allahu Akbar Bukan Ana Akbar: Refleksi Idulfitri

Setelah ibadah Ramadan kita jalani, apa yang harus kita lakukan sesuai dengan petunjuk dari Al-Qur’an? Adalah mengagungkan Allah SWT

Tayang:
Editor: Rustam Aji
dok.pribadi
REFLEKSI IDULFITRI - Sapto Suhendro, S.Ag.,M.Pd, Ketua PD Muhammadiyah Pemalang 

HARI RAYA Hari Raya Idulfitri 2025 telah tiba, mari kita sambut dengan penuh kegembiraan. 

Gembira dengan pakaian baru ataupun aneka macam makanan yang ada di meja makan dan meja tamu.

Tidak ada masalah lebaran kita sambut dengan hal-hal semacam itu.

Firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqoroh:185 yang artinya: “… Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur”.

Kementrian Agama RI menetapkan 1 Syawwal 1446 H pada Senin, 31 Maret 2025.

Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa: Dari Religiousness dan Religious Mindedness, Menuju Rahmatan Lil ‘alamin

Keputusan ini setelah dilakukan siding isbat tertutup di Auditorium Haji Mohammad Rasjidi Kemenag RI di Jakarta Pusat, Sabtu sore, 29 Maret 2025, pukul 19.05 WIB.

Sehingga Hari Raya Idulfitri tahun ini bisa dirayakan bersama-sama antara Pemerintah, Muhammadiyah dan NU.

Dalam hal ini, sebagai ummat Islam di Indonesia telah mencukupkan bilangan puasa Ramadan selama 30 hari, sejak 1 Maret sampai dengan 30 Maret 2025, tanpa ada perbedaan hari khususnya bagi mayoritas organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Ini perlu kita syukuri bersama. Maka mari kita gunakan momentum Idhul Fitri ini dengan memupuk ukhuwwah, persatuan dan kesatuan sehingga lebih baik daripada sebelumnya.

Setelah ibadah Ramadan kita jalani, apa yang harus kita lakukan sesuai dengan petunjuk dari Al-Qur’an?

Adalah mengagungkan Allah SWT dengan melantunkan takbiran setelah terbenamnya matahari akhir Ramadhan, waktu maghrib sampai dengan Imam Sholat Idhul Fitri berdiri melaksanakan sholat Id.

Dengan lafadz takbiran seperti yang kita ketahui : “Allahu akbar Allahu akbar kabiiraa, walhamdu lillahi katsira, wa subhanallahi bukratan wa ashila, la ilaha illallahu wa la na'budu illa iyyahu mukhlishina lahud dina wa law karihal kafirun, la ilaha illallahu wahdah, shadaqa wa'dah, wa nashara 'abdah, wa a'azza jundahu wa hazamal ahzaba wahdah, la ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar walillahilhamd.” 

Baca juga: Arus Mudik Simpang Tiga Sampang Cilacap Ramai Lancar, Mobilitas Warga Lokal Meningkat

Artinya: " Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-sebanyak puji, dan Maha suci Allah sepanjang pagi dan sore, tiada Tuhan(yang wajib disembah) kecuali Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya, dengan memurnikan agama Islam, meskipun orang-orang kafir, orang-orang munafik, orang-orang musyrik membencinya. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dengan keesaan-Nya, Dia dzat yang menepati janji, dzat yang menolong hamba-Nya dan memuliakan bala tentaraNya dan menyiksa musuh dengan keesaan-Nya. tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan segala puji hanya untuk Allah."

Takbiran ini akan lebih meresap maknanya jika kita mengetahui arti dan maksud tiap katanya.

Dan dilafadzkan dari hati, keluar dari lisan kita.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved