Sabtu, 2 Mei 2026

Hikmah Ramadan oleh Menteri Agama

Merawat Kemabruran Puasa: Lebih Banyak Diam Bisa Terbebas dari Fitnah dan Marabahaya

Kita juga sering bersyukur karean bisa bersikap diam dan mengendalikan diri sehingga terbebas dari fitnah dan marabahaya.

Tayang:
Editor: Rustam Aji
TRIBUNNEWS/LENDY RAMADHAN
Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, M 

Namun perlu juga diingat tidak selamanya diam itu pilihan terbaik. Adakalanya seseorang harus dan wajib biara, terutama menyuarakan kebenaran, sebagaimana sabda Nabi: “Katakanlah kebenaran itu meskipun pahit”. Basyar al-Hafi pernah mengatakan: “Jika suatu pembicaraan membuatmu terkagum-kagum, maka sebaiknya anda diam saja. Dan jika diam justru membuatmu terkagum-kagum, maka sebaiknya anda angkat bicara”.

Hal senada juga disampaikan Lukman kepada puteranya: “Jika bicara itu adalah perak, maka diam adalah emas. Sesungguhnya aku menyesali atas suatu ucapan berulang-ulang, namun aku tidak menyesali diam sekali pun.

Abu Ali al-Daqqaq juga pernah berkomentar: “Barangsiapa diam dari kebenaran, maka dia adalah setan bisu”.

Dalam situasi lain, seseorang yang diminta untuk biara harus bicara, terutama jika pembiaraan itu mendatangkan maslahat dan mencegah mudharat.

Bisa dicontohkan, jika seorang hamba berbicara mengenai sesuatu yang dapat menolongnya dan sesuatu yang mesti dia bicara, maka hal itu masih dikategorikan sebagai diam.

Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa: Mengontrol Tabungan Sosial sebagai Bekal Akhirat

Konon, Abu Hamzah al-Baghdadi adalah seorang yang bagus bicaranya, lalu terdengar suara memanggilnya:

 “Engkau berbicara dan bicaramu bagus, sekarang tiggallah engkau diam sehingga engkau menjadi bagus".

Setelah itu, ia tidak pernah lagi bicara hingga wafatnya.

Terkadang sikap diam bagi seseorang merupakan suatu etika baginya, sebab dengan berbicara, justru ia merusak etikanya sendiri, atau dalam sebuah majelis tersebut terdapat seorang yang lebih patut berbicara, atau terdapat manusia dan jin yang tidak menjadi pendengar terhadap pembicaraan itu, dengan sikap diam seperti ini, maka Allah akan memeliharanya. 

Sebagian ulama mengatakan: “Manusia diciptakan dengan hanya satu lidah, dan dua mata dan dua telinga adalah agar ia melihat dan mendengar lebih banyak dari pada brbicara.” Allahu a’lam. (*/7/Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA)

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved