Bakul Pasar, Copet, dan Kondektur

Pasar telah berdiri jauh sebelum Republik Indonesia berdiri. Pasar merupakan warisan budaya bangsa yang bertahan dan tumbuh sejalan perkembangan jaman

|
Editor: Rustam Aji
TRIBUN BANYUMAS/SAIFUL MASUM
Ilustrasi - Pedagang dan pembeli ikan sedang bertransaksi di pasar relokasi Weleri yang berlokasi di Terminal Bahurekso Kendal, Senin (3/1/2022). 

Sampai di depan Pasar Plelen Gringsing, saya lihat dia turun dari bus sendirian dan tidak ada penumpang lain yang turun.

Selepas jembatan Kalikuto, saya berjalan ke depan mendekati sopir persiapan turun di depan Pasar Weleri. Ada 4 penumpang yang akan turun, salah satunya orang yang tadi duduk disamping penumpang yang barusan turun di Pasar Plelen.

Begitu turun dari bus rupa-rupanya penumpang itu baru sadar jika dompetnya kecopetan.

Puluhan tahun hidup di lingkungan pasar dan keluarga bakul pasar banyak memberikan pelajaran penting soal bisnis, perdagangan, sosial budaya dan peradaban.

Saya menyaksikan banyak bakul gedang (pisang) dan sayuran memakai gelang emas rentengan di kedua tangan. Atau bakul pasar putihan yang meninggalkan dagangannya untuk menunaikan shalat Dhuhur dan Ashar di mushola atau pergi ke toilet di dalam pasar.

Tetapi saya belum pernah mendengar atau menyaksikan bakul pasar kecopetan. Hanya satu dua bakul yang pernah menjadi korban “pengutilan” oleh oknum pembeli di saat pasar ramai sekali. Itupun tidak dilakukan pencopet yang biasa beroperasi di lingkungan pasar.

Meskipun jumlah bakul pasar ribuan, tetapi tukang becak, kuli bongkar muat (porter), tukang parkir dan pencopet sudah “biso rumongso” (bisa merasakan), saling ta’aruf dan tafahum (mengenal dan memahami), serta memegang teguh etika bisnis dan sosial yang berlaku.

Yakni berupa nilai-nilai kejujuran, semangat gotong royong, tolong-menolong, kekeluargaan, tidak saling merugikan, kerjasama dan keadilan sosial ekonomi dalam usaha menjemput rejeki “palilahe” (keridhaan) Gusti Allah.

Suatu ketika, saya pernah bertemu “preman sadar” di sebuah masjid saat sembahyang Jumat. Saya mengenali dia sebagai pencopet, karena pernah dimintai tolong teman yang kecopetan di pasar.

Melalui bantuan jasa baiknya, dompet milik teman kami bisa kembali beserta surat-surat penting (KTP, SIM, Kartu ATM) dan uang yang sudah dipotong 20 persen.

Bisa jadi si pencopet dompet menganggap dirinya seorang petugas amil zakat yang berhak memungut zakat ghanimah (harta rampasan perang). Pernahkah anda mengetahui kondektur bus dan bakul pasar kecopetan ?.
Wallahu’alam

Weleri, 5 Oktober 2024

*) Bidang Hukum dan Advokasi Pedagang DPD APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia) Jawa Tengah

Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved