Bakul Pasar, Copet, dan Kondektur

Pasar telah berdiri jauh sebelum Republik Indonesia berdiri. Pasar merupakan warisan budaya bangsa yang bertahan dan tumbuh sejalan perkembangan jaman

|
Editor: Rustam Aji
TRIBUN BANYUMAS/SAIFUL MASUM
Ilustrasi - Pedagang dan pembeli ikan sedang bertransaksi di pasar relokasi Weleri yang berlokasi di Terminal Bahurekso Kendal, Senin (3/1/2022). 

Semacam pesan tertulis di belakang bus DAMRI (Djawatan Mobil Republik Indonesia) : “Sesama Bus Kota Dilarang Saling Mendahului”.

Pengalaman tersebut saya dapatkan setelah sering berinteraksi dengan koh dan tacik pemilik toko tempat kulakan, kuli bongkar muat dan pelajaran dagang dari suwargi bapak.

Copet adalah perbuatan mencuri uang atau barang berharga dari seseorang tanpa membuat korban mengetahui jika uang dan barang berharga mereka dicuri pada saat itu.

Biasanya korban pencopetan baru menyadari jika uang atau barangnya hilang setelah beberapa saat pencopet menghilang dari pandangan.

Kelengahan, abai, “nderah” dan “ora nggalbo” (Jawa : terlena, tidak peduli dan waspada diri) merupakan situasi dan kondisi sasaran yang paling diincar pencopet.

Dalam bahasa Melayu, pencopet biasa disebut Penyeluk Saku, bahasa Inggrisnya Pickpocketer. Mengapa disebut penyeluk saku? Sebab saku celana belakang merupakan tempat atau sasaran pencopet yang paling jamak ditemukan.

Jika maling, perampok, penjambret umumnya dilakukan pada situasi dan kondisi yang sepi, tidak demikian dengan copet.

Pencopet justru melakukan di tempat keramaian, terbuka dan banyak orang. 

Copet biasa beroperasi di sarana transportasi umum (Bus, Angkota, Kereta Api, Kapal, dll), mall dan pasar tradisional (pasar rakyat). Juga di berbagai keramaian umum seperti pasar malam, konser musik di alun-alun dan lapangan, serta kerumunan pengantar calon jamaah haji ketika pelepasan di Pendopo Kabupaten maupun di depan pintu gerbang asrama haji.

Untuk kasus yang terakhir ini biasanya pencopet “macak” (berpenampilan) seperti layaknya pengantar haji pada umumnya.

Pencopet biasanya bekerja dalam tim kecil 2-3 orang, meski ada juga yang sendirian. Pernah di tahun 1990-an, saya naik bus umum dari Batang menuju Weleri setelah Maghrib dan duduk di kursi paling belakang.

Sampai di depan pangkalan truk Penundan, bus menaikkan seorang penumpang. Saya mengenal orang yang baru naik bus tersebut sebagai pencopet pasar Weleri.

”Jemo ngendi kas (Darimana mas)?” tanya saya tersenyum saat dia mau duduk disampingku.

“Biasa kas ngokce ro magem (Biasa mas minum sama medok)”, jawabnya sambil melirik wajah saya. Penundan selain dikenal sebagai pangkalan truk juga lokalisasi di Kabupaten Batang.

“Ngamu ngarep jim kas (Aku ke depan dulu mas)” katanya sambil berdiri berpindah duduk ke deretan kursi bagian depan. Kulihat dia membayar ongkos kepada kondektur bus.

Halaman
123
Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved