Rabu, 13 Mei 2026

Berita Bisnis

Banjir di Jateng Bikin Pengusaha Truk Gagal Panen

Banjir di sejumlah daerah di Jawa Tengah membuat dunia bisnis terdampak. Pengusaha truk merugi pada momen yang seharusnya mereka panen jelang Lebaran.

Tayang:
TRIBUNBANYUMAS/Dok Ditlantas Polda Jateng
Truk angkutan barang menerjang banjir yang menggenangi Jalan Pantura di Kaligawe, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Jumat (15/3/2024). Truk besar mulai melintasi jalur tersebut setelah ketinggian banjir berkurang dari hampir satu meter menjadi 60-70 sentimeter. Kondisi ini merugikan dunia usaha, terutama pengusaha truk. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Sejumlah wilayah di Jawa Tengah (Jateng) beberapa hari terakhir ini dilanda banjir. Hal itu turut menyebabkan dunia usaha merugi.

Banjir menerjang jalur pantura di Kota Semarang dan Demak.

Kondisi ini membuat pengusaha angkutan barang merugi.

Baca juga: Banjir Makin Parah, 9 Kabupaten Kota di Jateng Berstatus Tanggap Darurat

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Agus Pratiknyo mengatakan, aktivitas pengiriman barang yang tersendat karena banjir, membuat pelaku bisnis ini merasakan dampak signifikan.

"Dampak banjir ini tentunya signifikan bagi kami dan tentu tidak hanya pengusaha truk, tetapi juga semua pengusaha angkutan barang via darat.

Adanya banjir, terutama di jalur Pantura Demak-Kudus ini bukan pertama kali, melainkan dalam jangka waktu yang sangat dekat, kejadian lagi.

Otomatis ada pengaruh," kata Wakil Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), Agus Pratiknyo saat dihubungi Tribunbanyumas.com, Senin (18/3/2024).

Baca juga: Banjir Demak Meluas hingga Merendam 89 Desa, 22.725 Orang Mengungsi

Seperti diketahui, banjir parah yang melanda pantura Demak merupakan yang kedua kalinya.

Sebelumnya, jalur pantura Demak-Kudus ini juga pernah terendam banjir besar pada pekan lalu.

Air belum surut, lumpur belum dibersihkan, banjir melanda kembali akibat tanggul jebol.

Agus menyebutkan, Ramadan ini sebenarnya menjadi masa panen bagi pengusaha angkutan darat di mana mereka harus mengejar setoran sebelum libur Lebaran.

Namun di tengah kondisi banjir yang terjadi, membuat mereka kesulitan mengejar target.

Pasalnya, saat musim mudik Lebaran, terdapat pembatasan angkutan barang.

"Sebenarnya bulan ini adalah bulan di mana kami para pelaku usaha angkutan darat itu ibaratnya harus ngejar setoran atau panen, karena bulan depan harus ada pembatasan untuk menyambut lebaran.

Ternyata ada (banjir) ini.

Ini kasihan sopir.

Sopir yang katakanlah biasanya bisa mengirim dua rit, ini hanya satu rit," ungkapnya.

Baca juga: Banjir Kudus Terkini, Semakin Meluas hingga 31 Desa, Ketinggian Air 70 Cm

Ditambah lagi, kata dia, kerugian materi juga tidak dapat dihindari.

Tambahan Biaya Operasional

Agus mengatakan kondisi banjir yang terjadi membuat pengusaha justru harus menambah biaya untuk operasional mencapai 5 persen.

"Kerugian kami dalam kondisi seperti ini adalah kondisi materi, dalam kalau ingin tetap bisa jalan otomatis harus cari jalur alternatif.

Jalur alternatif, otomatis menambah biaya untuk solar dan sopir.

Sekali jalan saja kami bisa menambah hampir Rp500.000, itu lumayan signifikan bagi kami.

Penambahan cost itu antara 5 persenan untuk dampak banjir ini," jelasnya.

Agus menyebutkan, dengan adanya penambahan ongkos ini pihaknya sendiri tidak bisa begitu saja menaikkan tarif ke konsumen.

Sebab kondisi banjir terjadi ini menurutnya merupakan bencana yang tidak terduga.

"Kami anggap sebagai force majeure dan pelaku usaha angkutan darat jarang yang serta merta menaikkan harga.

Kecuali nego, minta kepada customer untuk membantu subsidi biaya jalur alternatif.

Tapi rata-rata customer tidak ada yang mau tau," ujarnya.

Sementara itu, ia meminta agar pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap nasib para pengusaha angkutan barang.

Hal itu sebab menurutnya, sejauh ini tidak ada perhatian khusus dari pemerintah untuk para pengusaha angkutan barang via darat yang terimbas banjir.

"Kami harap pemerintah mempedulikan kami, bagaimana menyentuh kami langsung.

Misalnya dengan pemberian diskon penggunaan tol untuk mengantisipasi jalur-jalur kemacetan ini atau menghindari jalur banjir

Selama hanya mengimbau untuk melewati jalur alternatif.

Padahal jalur alternatif kalau itu jalur nasional atau provinsi atau daerah, belum tentu itu adalah jalur yang layak untuk dilalui kendaraan angkutan barang," imbuhnya. (*)

Baca juga: Ketinggian Banjir Turun, Jalan Pantura Kaligawe Semarang Dibuka untuk Truk. Mobil Masih Dialihkan

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved