Keberagamaan
Umat Hanya 2 Orang, Pelayanan Pemerintah pada Perayaan Imlek di Klenteng Hok Tek Bio Tetap Maksimal
Perayaan Imlek di Klenteng Hok Tek Bio Banjarnegara sepi karena umatnya tinggal 2 orang.Tapi pelayanan pemerintah tidak berubah.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: khoirul muzaki
Berbagai persyaratan ritual sembahyang hingga sesajen lengkap semisal Kue Kranjang, Kue Wajik dan buah-buahan telah ia persiapkan. Ada atau tidak umat yang datang untuk sembahyang, Agus tetap setia menanti dan siap memberikan pelayanan.
Ia pun mengapresiasi pemerintah, termasuk Kemenag yang selalu mendukung perayaan Imlek di Banjarnegara. Pemerintah tetap memberikan pelayanan, termasuk pengamanan meskipun perayaan Imlek di klenteng sepi.
Dengan begitu, umat yang ingin beribadah dan merayakan Imlek di klenteng merasa tenang dan nyaman.
“Terima kasih karena umat bisa beribadah dengan tenang dan nyaman karena ada perlindungan,”katanya
Baca juga: Kemenag Launching PMB PTKIN, Berikut Jadwal dan Alur Pendaftarannya Jangan Sampai Kelewatan!

Kebudayaan yang menyatukan
Boni, warga Tionghoa di Kota Banjarnegara membenarkan populasi umat Konghucu di Banjarnegara yang nyaris habis. Bahkan yang dia ketahui umatnya hanya tinggal satu keluarga di Banjarnegara.
Boni sendiri sebenarnya putra dari Saliman, mantan Ketua Klenteng Hok Tek Bio yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Meski sang ayah pemeluk Konghucu, tak ada paksaan bagi Boni untuk mengikuti agama orang tuanya. Ia nyatanya bebas memeluk Agama Katolik. Sementara kakaknya memeluk Agama Islam.
Sepeninggal ayahnya, umat Konghucu di Banjarnegara semakin berkurang drastis. Boni juga tidak melanjutkan estafet kepemimpinan ayahnya di klenteng karena punya keyakinan beda.
"Warga Tionghoa di sini agamanya beda-beda. Ada yang Kristen, Katolik, Budha, Islam dan Konghucu”katanya
Meski yang memeluk agama Konghucu hanya hitungan jari, komunitas Tionghoa di Banjarnegara sebenarnya cukup banyak. Perayaan Imlek sebenarnya bisa menjadi ajang untuk menyatukan warga Tionghoa dari berbagai latar belakang agama maupun kepercayaan.
Sebab menurut Boni, Imlek adalah kebudayaan untuk memeringati pergantian tahun baru. Sehingga setiap warga Tionghoa, apapun agamanya, boleh dan berhak merayakannya.
Hanya tidak semua warga Tionghoa mau merayakan Imlek di klenteng. Banyak di antara mereka yang memilih merayakan tradisi Imlek bersama keluarga di rumah.
"Kita menyambut tahun baru dengan semangat dan harapan baru. Karena di sini wadahnya tidak ada, jadi merayakannya secara pribadi, saling kirim doa dan ucapan, " katanya
Baca juga: Kemenag Fasilitasi Pembuatan Sertifikat Halal Gratis bagi 1 Juta UMK, Begini Cara Daftarnya
Hak tetap terpenuhi
Kebebasan memeluk agama dan bisa menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing dijamin Undang-undang, tepatnya Pasal 29 UUD 1945.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.