Berita Tegal

Kuliner Enak Legendaris Khas Kota Tegal: Blengong Goreng Bapak Taswadi

Satu makanan khas Kota Tegal, sekaligus kuliner legendaris, blengong goreng. Blengong adalah peranakan bebek dan entok.

Fajar Bahruddin/TribunBanyumas.com
Kuliner khas Kota Tegal, daging blengong goreng Pak Taswadi yang berlokasi di Kelurahan Sumurpanggang, Kota Tegal. Blongong merupakan binatang peranakan bebek dan entok. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, TEGAL - Satu makanan khas Kota Tegal, sekaligus kuliner legendaris yakni blengong goreng.

Kuliner blengong goreng bisa dikatakan satu makanan hidden gem di Kota Tegal yang belum diketahui oleh banyak orang, khususnya orang luar kota.

Anda bisa mencicipinya di Blengong Goreng Bapak Taswadi yang berlokasi di RT 01 RW 02 Gang 3, Kelurahan Sumurpanggang, Kecamatan Margadana, Kota Tegal.

Mungkin belum banyak yang tahu apa itu blengong.

Baca juga: Kelenteng Tek Hay Kiong Tegal Punya Gamelan Ratusan Tahun Kiai Naga Mulya, Ditabuh Jelang Imlek

Blengong adalah binatang yang merupakan peranakan bebek dan entok.

Meski lokasinya masuk ke gang-gang, blengong goreng Bapak Taswadi selalu ramai dan menjadi jujukan warga lokal.

Kuliner ini menjadi langganan PNS, pejabat, hingga Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono. 

Keberadaan kuliner ini sebenarnya sudah sangat legendaris, ada sejak 1960-an. 

Seorang pelanggan, Sri Budi Utami (50) mengatakan, ia sudah menjadi langganan di Blengong Goreng Bapak Taswadi.

Baca juga: Jelang Imlek, Warga Mulai Mandikan Ratusan Patung Dewa di Kelenteng Tek Hay Kiong Tegal

Biasanya, ia datang bersama teman sekantor atau teman main. 

Ia mengatakan, daging blengong gorengnya memiliki tekstur yang empuk dan tidak keras. 

Selain itu, cita rasanya sangat gurih. 

"Di sini kita makan disajikan hangat-hangat.

Jadi datang pas lapar, kita bisa lahap makannya," kata Budi kepada TribunBanyumas.com, Jumat (13/1/2023).

Baca juga: 3 Fakta Sejarah Kelenteng Tek Hay Kiong Kota Tegal: Tempat Pengungsian Korban Rasial Tionghoa

Pemilik blengong goreng Bapak Taswadi, Sri Heni (43) mengatakan, usaha blengong gorengnya sudah turun temurun dari orangtua, sejak 1960-an.

Warung blengong goreng berada persis di samping rumah, bukanya hanya jam makan siang, pukul 10.30- 14.00 WIB.

Sedangkan saat sore, ia dan keluarganya berjualan kupat blengong di sentral kuliner di Jalan Sawo, Kelurahan Kraton.

"Kalau yang di sini hanya untuk makan siang.

Menunya hanya blengong goreng dan sate semur," ujarnya.

Baca juga: Ungguli Borobudur! Jumlah Pengunjung Guci Tegal saat Natal Tembus 10 Ribu Orang, Terbanyak di Jateng

Heni mengatakan, blengong gorengnya memang terkenal memiliki cita rasa yang gurih. 

Rasa tersebut diperoleh dari bumbu khas warisan keluarga. 

Selain itu, blengong yang merupakan peranakan bebek dan entok dagingnya memang enak. 

"Gurihnya karena masaknya, merebusnya lama kurang lebih enam jam dan resep bumbunya," katanya. 

Heni bersyukur, setiap siang hari warungnya selalu ramai. 

Bahkan wali kota juga sering memesannya. 

Dalam sehari ia bisa menghabiskan 15 ekor blengong.

Jumlah tersebut lalu dibagi untuk warung yang di rumah dan untuk sore hari di Jalan Sawo. 

"Untuk harga terjangkau, daging goreng Rp10 ribu perpotong dan sate semur Rp4.000 pertusuk," ungkapnya. (*)

Baca juga: Camping di Tegal Bisa di Golden Park Guci: Harga Permalam, Fasilitas, dan Kapasitas

Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved