Santri Tewas Dianiaya Senior

Hasil Autopsi Belum Keluar, Keluarga Santri Tewas di Ponpes Masaran Sragen akan Datangi Polisi

Keluarga DWW (14), santri sebuah pondok pesantren di Masaran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, masih menunggu hasil autopsi jenazah.

Editor: rika irawati
Ledbible via Tribunnews
Ilustrasi penganiayaan. Seorang santri asal Ngawi, Jawa Timur, diduga tewas setelah dianiaya senior di sebuah pondok pesantren di Masaran, Sragen. Hingga hari ketujuh, keluarga masih menunggu hasil autopsi jenazah untuk mengetahui penyebab tewasnya santri tersebut. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SRAGEN - Hingga Sabtu (26/11/2022), keluarga DWW (14), santri sebuah pondok pesantren di Masaran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, masih menunggu hasil autopsi jenazah.

Santri asal Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, itu tewas diduga akibat penganiayaan senior berinisial M.

Dugaan penganiayaan terjadi karena korban diduga melanggar aturan terkait kebersihan dan mendapat hukuman pukulan serta tendangan.

Sebelum meninggal dunia, Korban sempat mendapat perawatan medis dan dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (20/11/2022) pukul 02.00 WIB.

Baca juga: Tersangka Kasus Santri Tewas di Sragen Terancam 10 Tahun Penjara, Polisi Jamin Proses Hukum Cepat

Baca juga: Kronologi Santri Ponpes di Sragen Tewas Diduga Dianiaya Senior, Keluarga: Dipukul dan Ditendang

Dwi Minto Waluyo, ayah DWW, mengaku belum mendapatkan hasil autopsi anak semata wayangnya dari RS Moewardi, Solo.

"Kemarin, selamatan tujuh hari dan sampai saat ini kami belum menerima surat hasil autopsi. Katanya, hasilnya satu pekan, ini sudah satu pekan," ujar Dwi, Sabtu (26/11/2022), dikutip dari Kompas.com.

Dwi Minto pun berniat mendatangi Polsek Masaran, Sragen, untuk meminta kejelaan hasil autopsi serta penyebab kematian DWW.

"Kami mau menanyakan hal itu tapi masih nunggu habis selamatan 7 hari," imbuhnya.

Dwi bercerita, dari keterangan teman sepondok anaknya, DWW dipukul kakak kelasnya karena melanggar peraturan.

Namun, saat DWW terkapar karena dipukuli, sang senior melarang santri lain membantu remaja berusia 14 tahun tersebut.

"Dari temannya, cerita dipukul sampai tersungkur sampai kejang-kejang, ditolong itu tidak boleh sama kaka kelasnya itu," kata dia.

Karena itu, Dwi berharap, hasil autopsi mengungkap penyebab kematian DWW sehingga polisi bisa mengambil langkah hukum terkait kematian DWW.

"Kami pengin tahu itu nanti siapa yang bertanggung jawab. Kami menitipkan sekolah di situ supaya mendapat bekal ilmu agama ke depan," ujarnya.

Terduga Pelaku Dikeluarkan

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved