Santri Tewas Dianiaya Senior

Tersangka Kasus Santri Tewas di Sragen Terancam 10 Tahun Penjara, Polisi Jamin Proses Hukum Cepat

Satreskrim Polres Sragen telah memeriksa setidaknya 11 saksi dalam kasus penganiayaan berujung kematian DWW (15), santri sebuah ponpes di Sragen.

Penulis: Mahfira Putri Maulani | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/MAHFIRA PUTRI MAULANI
Kasi Humas Polres Sragen Iptu Ari Pujiantoro (kanan), memberi keterangan terkait kematian santri ponpes di Masaran, di Mapolres Sragen, Rabu (23/11/2022). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SRAGEN – Satreskrim Polres Sragen telah memeriksa setidaknya 11 saksi dalam kasus penganiayaan berujung kematian DWW (15), santri sebuah pondok pesantren (ponpes) di Masaran, Sragen.

Polisi telah menetapkan satu orang tersangka yang merupakan santri senior, berinisial M (16).

Kasi Humas Polres Sragen Iptu Ari Pujiantoro mengatakan, saksi yang diperiksa di antaranya ustaz, santri yang mengetahui kejadian, juga orangtua korban.

Ari mengatakan, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan kejaksaan agar kasus ini berjalan lebih cepat lantaran pelaku dan korba merupakan anak-anak.

"Selanjutnya, kami tetap sesuai prosedur. Langkah-langkah hukum kami tetap koordinasi dengan kejaksaan. Supaya kejadian tersebut segera kami limpahkan ke kejaksaan. Karena ini UU Anak, seharusnya lebih cepat dari perkara biasa," kata Ari, Rabu (23/11/2022).

Baca juga: Polisi Tetapkan 1 Tersangka Kasus Santri Tewas di Masaran Sragen, Tak Ditahan Hanya Wajib Lapor

Baca juga: Kronologi Santri Ponpes di Sragen Tewas Diduga Dianiaya Senior, Keluarga: Dipukul dan Ditendang

Ari mengatakan, lantaran tersangka masih di bawah umur, yang bersangkutan tidak ditahan namun wajib lapor.

Pihaknya bakal menjerat tersangka dengan Pasal 80 Ayat 3 UU Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

Diberitakan sebelumnya, keluarga santri ponpes di Masaran Sragen melaporkan ke polisi kematian anaknya yang dinilai tidak wajar.

Keluarga menemukan tanda merah di dada saat menerima jenazah dari pihak pesantren, Minggu (20/11/2022).

Informasi yang diterima keluarga, DWW dilarikan ke klinik setelah mendapat pukulan dan tendangan senior karena masalah piket kebersihan kamar.

"Dalam kasus ini, tersangka tidak punya masalah atau dendam terhadap korban. Ini kegiatan mendisiplinkan dari senior ke junior."

"Senior melakukan tindakan kurang pas tidak terkontrol karena tidak dalam pengawasan, sehingga berakibat salah satu santri tersebut pingsan di tempat dan berujung meninggal dunia," kata Ari.

Baca juga: Jebol Plafon Ruang Isolasi, 5 Tahanan di Lapas Sragen Kabur. Status Titipan Pengadilan

Baca juga: Korban Perundungan Soal Jilbab di Sragen Belum Masuk Sekolah, Guru Terus Lakukan Pendekatan

Terkait hasil visum, Ari mengatakan pihaknya masih menunggu.

Sementara itu, Dwi Minto Waluyo, ayah korban, berharap, kasus ini berjalan tuntas meski pelaku masih di bawah umur.

Menurut Dwi, pelaku maupun keluarga pelaku, hingg Rabu, belum menunjukkan itikad baik lewat permintaan maaf.

"Mudah-mudahan tidak terjadi lagi, cukup anak saya saja yang menjadi korban berjuang dalam menuntut ilmu. Kasus terus berjalan sebagaimana mestinya," harapnya. (*)

Baca juga: Wapres Maruf Amin Puji Al Irsyad Al Islamiyyah Cetak SDM Unggul saat Buka Muktamar Nasional Ke-41

Baca juga: Mobil Berisi 7 Orang Guru TK Hilang di Desa Cibeureum, Belum Ada Kabarnya Sejak Gempa Terjadi

Baca juga: Pesan Ganjar kepada Pj Bupati Cilacap: Tak Neko-neko Selama Menjabat, Lakukan Reformasi Birokrasi

Baca juga: Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini, Kamis 24 November 2022: Rp1.012.000 Per Gram

Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved