Berita Internasional
Sydney Australia Dilanda Banjir Hebat, WNI Diimbau Waspada dan Siap Mengungsi
Hujan deras akhir pekan lalu mengakibatkan banjir parah di negara bagian New South Wales, Australia.
TRIBUNBANYUMAS.COM, SYDNEY - Hujan deras akhir pekan lalu mengakibatkan banjir parah di negara bagian New South Wales, Australia.
Puluhan ribu warga pun diperintahkan mengungsi karena hingga Senin (4/7/2022), hujan deras masih berlangsung.
Terkait kondisi ini, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Sydney mengimbau warga negara Indonesia (WNI) di Sydney agar meningkatkan kewaspadaan.
Khususnya, terhadap kondisi curah hujan yang tinggi, angin kencang, serta banjir.
Imbauan ini disampaikan KJRI Sydney lewat akun resmi Twitter mereka di @IndonesiaInSyd.
Dalam cuitannya, KJRI Sydney juga meminta WNI mempersiapkan perlengkapan untuk mengantisipasi pemadaman listrik dan instruksi evakuasi.
"Terus pantau perkembangan cuaca dan peringatan cuaca yang tersedia," pinta KJRI Sydnedy.
Baca juga: Gara-gara Serangan Tikus, Ratusan Narapidana di Penjara Australia Dievakuasi
Baca juga: Kapal Yacht Asal Australia Dibegal Saat Melintasi Perairan Lampung
Tersedia pula kontak Whatsapp KJRI Sydney yang bisa dihubungi jika WNI memerlukan bantuan KJRI di nomor (+61)434 544 478.
Ini merupakan banjir ketiga sepanjang Januari-awal Juni, tepatnya pada Maret dan April. Yang ketiga, terjadi awal Juli ini.
Pemerintah setempat telah memerintahkan 30 ribu penduduk di New South Wales mengungsi.
Sementara, di Sydney, banjir merendam rumah, pertanian, bahkan jembatan.
"Ini sangat menghancurkan. Kami tidak percaya," kata Walikota Camden Theresa Fedeli.
"Sebagian besar dari mereka baru saja keluar dari banjir terakhir, mengembalikan rumah mereka ke tempatnya, bisnis mereka kembali, dan sayangnya kami mengatakan itu (banjir) terjadi lagi," sambungnya.
Lebih dari 200 mm hujan telah turun di banyak daerah, dengan beberapa di antaranya mencapai 350 mm sejak Sabtu (2/7/2022).
Biro cuaca setempat memperingatkan, banjir di beberapa daerah dapat mendekati atau melebihi kejadian pada Maret 2021 atau pada Maret serta April tahun ini.