Berita Internasional
Disetujui PBB, Turki Resmi Ganti Nama Jadi Turkeyi
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui perubahan nama Turkey menjadi Turkiye, Rabu (1/6/2022).
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menjelaskan bahwa tujuan pergantian nama tersebut adalah untuk meningkatkan branding atau nilai merek negara tersebut.
Sementara itu, Presiden Recep Tayyip Erdogan menyatakan bahwa nama baru itu mengungkapkan budaya, peradaban, dan nilai-nilai bangsa Turki dengan cara terbaik.
Namun, pendapat lain disampaikan oleh Ketua Center for Economics and Foreign Policy Studies (EDAM) Istanbul, Sinan Ulgen.
Mengutip CNN, dia menuturkan, nama Turkey dikaitkan dengan burung kalkun yang merupakan burung besar simbol perayaan Thanksgiving di Amerika.
Dalam bahasa Inggris, burung kalkun disebut turkey atau wild turkey, serupa dengan nama internasional Turki, yaitu Turkey sebelum perubahan.
Ulgen mengungkapkan, upaya perubahan nama ini bukan pertama kalinya di negara tersebut.
Pada pertengahan 1980-an, pemerintahan Perdana Menteri Turgut Ozal pernah melakukan upaya serupa. Sayangnya, upaya itu tidak mendapatkan simpati rakyat.
Setelah perubahan nama menjadi Turkiye mendapatkan restu dari PBB maka mulai saat ini, organisasi internasional diwajibkan untuk menggunakan nama baru itu.
Namun, Ulgen memperkirakan prosesnya butuh waktu bertahun-tahun.
"Kemungkinan akan memakan waktu bertahun-tahun bagi publik internasional yang lebih luas untuk beralih dari Turkey ke Turkiye," ujarnya.
Baca juga: Kunjungi Cilacap, Dubes Denmkar untuk Indonesia Cek Pengolahan Sampah Sistem RDF di PT SBI
Baca juga: Demi ke Tanah Suci, Mbah Misri Lepas Seperempat Sawah di Grobogan
Baca juga: Harga Tiket Masuk Candi Borobudur Bakal Naik Jadi Rp 750 Ribu, Berlaku Bulan Depan
Baca juga: Curi Kucing Ras, Ibu dan Anak di Cilacap Terancam Hukuman 7 Tahun Penjara
Pendapat berbeda disampaikan Francesco Siccardi, Manajer Senior di Lembaga Riset Carnegie Europe.
Ia menduga, ada motivasi politik di balik langkah tersebut.
Utamanya, masyarakat Turki akan menggelar pemilihan umum (pemilu) pada Juni 2023 mendatang.
Padahal, negara tersebut tengah mengalami krisis ekonomi yang pelik.
Defisit perdagangan luar negeri Turki naik 98,5 persen secara tahunan (yoy) menjadi 6,11 miliar dolar AS pada April.