Berita Banyumas
Kenaikan Harga Telur Ayam Ras di Purwokerto dan Cilacap Picu Inflasi Bulan Mei 2022
Bank Indonesia Purwokerto mencatat tingkat inflasi Purwokerto dan Cilacap pada Mei 2022, masing-masing sebesar 0,63 persen (mtm) dan 0,59 persen (mtm)
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Bank Indonesia Purwokerto mencatat tingkat inflasi Purwokerto dan Cilacap pada Mei 2022, masing-masing sebesar 0,63 persen (mtm) dan 0,59 persen (mtm).
Dalam rilis yang diterima, Jumat (3/6/2022), Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto Rony Hartawan mengungkapkan, inflasi di kedua daerah tersebut, satu di antaranya didorong meningkatnya harga telur ayam ras.
Selain itu, inflasi juga didorong kenaikan harga daging sapi yang dipengaruhi faktor wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang telah menyebar di Jawa sejak awal Mei 2022.
Pasokan juga diperkirakan terganggu seiring pemberlakuan lockdown atau penutupan wilayah dalam mengantisipasi virus PMK.
Harga komoditas bawang merah juga mengalami kenaikan lantaran pasokan dari sentra produksi berkurang.
Terkait inflasi ini, Rony mengatakan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah Kabupaten Banyumas dan Cilacap telah melakukan beberapa upaya pengendalian secara sinergis.
Baca juga: Penjual Luar Daerah Ngotot Masuk, Pasar Hewan di Banyumas Ditutup sampai 18 Juni 2022
Baca juga: Tak Putus Asa! Nardi, Difabel Banyumas, Kreatif Bikin Wayang Karton. Terjual hingga Luar Jawa
Baca juga: Bejat! Ayah di Cilacap Tega Cabuli Anak Kandung hingga Hamil. Sempat Tepergok Istri, Langsung Ancam
Baca juga: Jateng Selatan Punya Potensi Besar Bidang Maritim, Anggota DPD RI: Cukup dari Tanjung Intan Cilacap
Di antaranya, melakukan high level meeting (HLM) TPID untuk merumuskan upaya pengendalian harga komoditas strategis dalam rangka persiapan menghadapi Idulfitri 1443H.
Juga, melakukan monitoring harga secara rutin, serta memastikan terjaganya ketersediaan pasokan pangan.
"Tekanan inflasi di Purwokerto pada Mei 2022 (0,63 persen, mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya (1,65 persen, mtm)."
"Inflasi terutama bersumber dari peningkatan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan andil sebesar 0,43 persen (mtm)," jelas Rony.
Di sisi lain, tekanan inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh koreksi harga beberapa komoditas, utamanya, minyak goreng, nangka muda, anggur, emas perhiasan, dan kelapa.
Sementara, dilihat secara tahun kalender, inflasi Purwokerto tercatat sebesar 3,85 persen (ytd) dan secara tahunan, sebesar 5,28 persen (yoy).
Capaian inflasi tahunan tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis inflasi Mei tahun 2019 sampai dengan 2021, yang sebesar 2,00 persen (yoy).
Pada periode yang sama, Kabupaten Cilacap mencatatkan inflasi sebesar 0,59 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya (1,68 persen, mtm).
Inflasi utamanya bersumber dari peningkatan harga kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang memberikan andil sebesar 0,47 persen (mtm).
Adapun komoditas yang menjadi penyumbang inflasi tertinggi adalah telur ayam ras, daging sapi, kacang panjang, bawang merah, dan angkutan antar kota.
Sementara itu, inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh koreksi harga pada beberapa komoditas pangan, utamanya ikan kembung, beras, emas perhiasan, cabai merah, labu siam, atau jipang.
Secara tahun kalender, inflasi Cilacap tercatat sebesar 4,26 persen (ytd).
Baca juga: Harga Bumbu Dapur dan Sayuran di Kendal Naik, Tertinggi Cabai Merah Keriting Tembus Rp 65 Ribu/Kg
Baca juga: Pura-pura Berniat Bayar di Rumah, Perempuan di Banyumanik Semarang Bawa Kabur Belanjaan Rp 1,2 Juta
Baca juga: Sampaikan Replik, JPU KPK Tetap Minta Hakim Hukum 12 Tahun Penjara Bupati Nonaktif Banjarnegara
Baca juga: Hari Ketiga Pencarian, Seorang Pemancing yang Hanyut di Sungai Kacangan Purbalingga Ditemukan Tewas
Adapun capaian inflasi secara tahunan dilaporkan sebesar 5,46 persen (yoy) pada posisi Mei 2022.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis inflasi Mei tahun 2019 sampai 2021, sebesar 1,84 persen (yoy).
Rony memastikan, Bank Indonesia tetap konsisten menjaga inflasi di kisaran sasaran 3±1 persen (yoy) pada 2022.
Adapun risiko yang dapat mempengaruhi pencapaian inflasi ke depan, di antaranya, meningkatnya permintaan domestik sejalan dengan arah pemulihan ekonomi nasional serta dampak inflasi dari kenaikan permintaan dan harga barang di luar negeri (imported inflation).
Dalam hal ini, koordinasi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan pihak terkait lain akan terus dilakukan sebagai upaya menjamin ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan keterjangkauan harga khususnya untuk bahan kebutuhan pokok. (*)