Berita Boyolali

Pentas Wayang Pantang Digelar di Wonosegoro Boyolali. Jika Dilanggar, Warga Percaya Terjadi Petaka

Pagelaran wayang, jamak diadakan warga di Jawa Tengah. Namun, di Dukuh Dukuh Wonosegoro, Desa/Kecamatan Cepogo, Boyolali, pagelaran wayang, tabu.

Editor: rika irawati

TRIBUNBANYUMAS.COM, BOYOLALI - Pagelaran wayang, jamak diadakan warga di Jawa Tengah. Namun, di Dukuh Dukuh Wonosegoro, Desa/Kecamatan Cepogo, Boyolali, pagelaran wayang justru tabu.

Bahkan, warga dilarang menggelar hiburan tradisional yang kaya nilai positif tersebut.

Jika dilanggar, warga di kaki Gunung Merbabu ini meyakini akan terjadi petaka.

Tak diketahui secara pasti sejak kapan pantangan nanggap wayang itu ada. Begitu pula dengan asal usulnya.

Hanya saja, warga meyakini, pantangan tersebut terkait Watu Kelir (batu bentuk kelir wayang) yang ada di wilayah tersebut.

Baca juga: Ngeri! 10 Anak di Boyolali Jadi Korban Kekerasan dalam 5 Bulan Terakhir. Mayoritas Pelaku, Keluarga

Baca juga: Prasasti Diduga Berumur 1.121 Tahun Ditemukan di Boyolali, Memuat Empat Baris Tulisan Aksa Jawa Kuno

Baca juga: Adu Banteng Truk Kontainer dan Truk Boks di Timur SPBU Teras Boyolali, Bapak Anak Tewas

Baca juga: Ganjar Pantau Pembagian BLT Minyak Goreng di Mojosongo Boyolali: Jangan Buat Beli Pulsa!

Suprapto, warga setempat, mengatakan, pantangan menggelar wayang sudah ada sejak dirinya kecil.

Dia yang kini berusia 50 itu tak pernah melihat adanya warga atau dukuh setempat yang menggelar wayangan.

"Sejak saya kecil, tidak pernah ada wayangan di sini. Warga tidak ada yang berani nanggap (menggelar wayang)," jelasnya.

Mengenai petaka yang akan menimpa warga yang melanggar itupun tak ada yang tahu.

Pasalnya, selama dia tinggal di wilayah tersebut, tak ada warga yang menggelar wayangan sehingga musibah apa yang akan terjadi, juga belum terbukti.

Suprapto mengatakan, cerita tutur yang berkembang di masyarakat, pantangan tersebut berkaitan dengan sosok penunggu gaib yang menjaga kampung di kaki gunung Merbabu ini.

Konon, sang penunggu gaib ini kurang berkenan dengan adanya pagelaran wayang kulit.

"Katanya, tidak boleh menyaingi watu (batu) yang berbentuk seperti kelir yang ada di sebelah selatan dukuh ini," jelasnya.

Baca juga: Tak Tutup Pasar Hewan, Ini Cara Dinas Pertanian Cilacap Cegah Penyakit Mulut dan Kuku pada Ternak

Baca juga: Jadi Balapan Terakhir di Musim 2022, Marquez Finis di Posisi 10 MotoGP Italia. Bagnaia Naik Podium

Baca juga: Dukung Pembangunan Masjid Jami Babussalam, Bupati Purbalingga Janjikan Hibah Rp 50 Juta di 2023

Baca juga: Sidak Pasar, Forkopimda Banyumas Temukan Harga Minyak Goreng Curah Lebihi HET. Ini Alasan Pedagang

Sutopo, salah satu pemerhati budaya mengatakan, masih mendalami cerita penduduk berkaitan larangan pagelaran wayang kulit ini.

"Ini sebuah kearifan lokal yang masih dipertahankan. Saya yakin, hal itu ada maksud baiknya, seperti larangan menebang pohon besar yang bermaksud melindungi mata air," ujarnya. (*)

Artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul Kampung di Kaki Gunung Merbabu Ini Punya Pantangan Unik, Dilarang Nanggap Wayang.

Sumber: Tribun Solo
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved