Ramadhan 2022

Masuk Ramadhan 2022, Masjid Agung Demak Adakan Megengan, Tradisi Peninggalan Sunan Kalijaga

Ribuan warga memadati halaman dan serambi Masjid Agung Demak di Kawasan Alun-Alun Simpang Enam Demak, Kabupaten Demak.

tribun/reza gustav
Suasana warga menonton tradisi Megengan di halaman Masjid Agung Demak, Kabupaten Demak, diikuti peserta marching band dan angklung serta dihadiri Bupati Demak, Eisti’anah, Sabtu (2/4/2022) sore. (TRIBUN JATENG/REZA GUSTAV) 

TRIBUNBANYUMAS.COM, DEMAK - Ribuan warga memadati halaman dan serambi Masjid Agung Demak di Kawasan Alun-Alun Simpang Enam Demak, Kabupaten Demak, Sabtu (2/4/2022) sore menjelang petang.

Mereka datang untuk menonton tradisi Megengan.

Megengan merupakan tradisi turun temurun dalam rangka menyambut Ramadan atau memasuki bulan suci.

Baca juga: Ramadhan 2022, Doa Niat Puasa dan Jadwal Imsak Serta Buka Puasa Banyumas Besok Ahad 3 April 2022

Suasana warga menonton tradisi Megengan di halaman Masjid Agung Demak, Kabupaten Demak, diikuti peserta marching band dan angklung serta dihadiri Bupati Demak, Eisti’anah, Sabtu (2/4/2022) sore. (TRIBUN JATENG/REZA GUSTAV)
Suasana warga menonton tradisi Megengan di halaman Masjid Agung Demak, Kabupaten Demak, diikuti peserta marching band dan angklung serta dihadiri Bupati Demak, Eisti’anah, Sabtu (2/4/2022) sore. (TRIBUN JATENG/REZA GUSTAV) (tribun/reza gustav)

Tampak sederet pemain angklung, marching band di halaman masjid dan rebana di serambi masjid mempersiapkan diri melakukan pertunjukannya.

Tradisi itu juga diikuti Bupati Demak, Eisti’anah dan Kapolres Demak, AKBP Budi Adhy Buono dan sejumlah pejabat lainnya.

Saat menjelang petang, Bupati Demak menabuh bedug diikuti pejabat lain sebagai tanda masuknya Ramadan.

Peserta marching band dan angklung dari MTs NU Demak kemudian langsung memainkan lagu-lagu dengan alat-alat musiknya.

Acara tersebut berakhir tepat sebelum memasuki waktu Magrib.

Baca juga: Ngabuburit di Tol Kahyangan Angkruk Ranis, Melihat Banjarnegara dari Ketinggian

Ketua Takmir Masjid Agung Demak, KH Abdullah Syifa menuturkan, tradisi Megengan memiliki makna menahan diri atau digambarkan seperti berpuasa yang menahan lapar, dahaga dan nafsu.

"Selain itu juga sebagai rasa syukur dan gembira kita bisa memasuki Ramadan.

Menabuh bedug itu juga salah satu kegembiraan, kemudian mewujudkan syukur dengan sedekah," ungkapnya.

Ia memperkirakan jumlah pengunjung yang datang ke acara tradisi tersebut mencapai sekitar 2.000.

Suasana warga menonton tradisi Megengan di halaman Masjid Agung Demak, Kabupaten Demak, diikuti peserta marching band dan angklung serta dihadiri Bupati Demak, Eisti’anah, Sabtu (2/4/2022) sore. (TRIBUN JATENG/REZA GUSTAV)
Suasana warga menonton tradisi Megengan di halaman Masjid Agung Demak, Kabupaten Demak, diikuti peserta marching band dan angklung serta dihadiri Bupati Demak, Eisti’anah, Sabtu (2/4/2022) sore. (TRIBUN JATENG/REZA GUSTAV) (tribun/reza)

Menurutnya, tradisi Megengan diciptakan Sunan Kalijaga.

Walisongo yang terkenal menyebarkan agama Islam dengan berbagai metode salah satunya melalui budaya yakni Sunan Kalijaga.

"Berdasarkan yang saya baca, yang menciptakan Megengan ini Kanjeng Sunan Kalijaga.

Halaman
12
Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved