Berita Purbalingga

Begini Komenter Warga Purbalingga Terkait Kenaikan Harga Pertamax Jadi Rp 12.500/Liter

Kenaikan harga Pertamax atau Gasoline RON 92 menjadi Rp 12.500 per liter, mulai Jumat (1/4/2022), disikapi berbagai reaksi dari warga Purbalingga.

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/PERMATA PUTRA SEJATI
Pengelola SPBU di Jalan Mayjen Sungkono Purbalingga memasang daftar harga terbaru BBM jenis Pertamax, Jumat (1/4/2022). Mulai hari ini, Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax menjadi Rp 12.500 per liter. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA - Kenaikan harga Pertamax atau Gasoline RON 92 menjadi Rp 12.500 per liter, mulai hari ini, Jumat (1/4/2022) memicu berbagai reaksi dari warga Purbalingga.

Beberapa warga mengaku pasrah ketika harga bahan bakar minyak (BBM) tersebut naik dari sebelumnya di angka Rp 9.000-an.

Seperti yang diungkapkan Wahyu W (55), warga Kalimanah, Purbalingga.

"Mau tidak mau, harus ikut kebijakan pemerintah. Kalau kita mengeluh juga tidak akan menurunkan harga."

"Semoga, rezeki saya diperbanyak agar bisa beli Pertamax dengan harga segitu," katanya saat ditemui, Jumat.

Baca juga: Cek Vaksinasi di Purbalingga, Ganjar Minta Pemkab Genjot Booster Lewat Momentum Izin Mudik Lebaran

Baca juga: Pemkab Purbalingga Lanjutkan Pembangunan Jalan Tembus Karangjambu-Ponjen, Tahun Ini Sepanjang 2 Km

Baca juga: Cicipi Nasi Mangut Bu Sugeng Legendaris di Purbalingga, Ikan Asap Didatangkan Langsung dari Klaten

Baca juga: Jelang Ramadan, Bupati Purbalingga Pastikan Stok Bahan Pangan Aman Termasuk Minyak Goreng

Pendapat lain diungkapkan Cyntia (45), yang mengaku sangat keberatan dengan kenaikan harga Pertamax.

Dia biasa membeli Pertamax untuk kendaraan pribadi yang digunakan bekerja dan perjalanan jauh.

"Merasa keberatan, pasti, apalagi mobilitas saya pakai motor, kadang pakai Pertalite tapi seringnya pakai Pertamax."

"Karena kalau kita, di desa, Pertashop saja seringnya jualnya Pertamax, hampir jarang sekali jual Pertalite."

"Sudah minyak goreng mahal, BBM mahal, mau puasa dan Lebaran pula," keluhnya.

Terpisah, Pejabat Sementara (Pjs) Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga SH C&T PT Pertamina (Persero), Irto Ginting mengatakan, Pertamina selalu mempertimbangkan daya beli masyarakat.

"Harga Pertamax ini tetap lebih kompetitif di pasar atau dibandingkan harga BBM sejenis dari operator SPBU lain."

"Kenaikan harga ini pun baru dilakukan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, sejak tahun 2019," jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima.

Menurutnya, penyesuaian harga ini masih jauh dari nilai keekonomian BBM.

Baca juga: Profil Taisei Marukawa, Resmi Direkrut PSIS Semarang, Pemain Terbaik Liga 1 Musim 2021-2022

Baca juga: BREAKING NEWS: Carlos Fortes dan Taisei Marukawa Resmi Gabung PSIS Semarang

Baca juga: Satgas Minyak Banyumas Mulai Bekerja, Tegur Jika Pedagang Jual Minyak Curah Lebih dari Rp 15.500/Kg

Baca juga: Sidang Isbat Penentuan Awal Ramadan Digelar Sore Ini. Pantauan Hilal di Jateng Dilakukan di 12 Titik

Sebelumnya, Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerjasama Kementerian ESDM Agung Pribadi, dalam keterangan, menyatakan, kenaikan harga BBM dilakukan atas pertimbangan kenaikan harga minyak bulan Maret yang jauh lebih tinggi dibanding Februari.

Maka, harga keekonomian atau batas atas BBM umum RON 92, bulan April 2022, akan lebih tinggi lagi dari Rp 14.526 per liter, bisa jadi sekitar Rp 16.000 per liter.

Dengan demikian, penyesuaian harga Pertamax menjadi Rp 12.500 per liter ini masih lebih rendah Rp 3.500 dari nilai keekonomiannya.

"Ini kami lakukan agar tidak terlalu memberatkan masyarakat," ungkap dia.

Dengan harga baru Pertamax, Pertamina berharap, masyarakat tetap memilih BBM Non Subsidi yang lebih berkualitas.

"Harga baru masih terjangkau, khususnya untuk masyarakat mampu. Kami juga mengajak masyarakat lebih hemat dengan menggunakan BBM sesuai kebutuhan," jelasnya.

Seperti diketahui, krisis geopolitik Rusia-Ukraina yang terus berkembang mengakibatkan harga minyak dunia melambung tinggi, di atas US$ 100 per barel.

Hal ini pun mendorong harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP), per 24 Maret 2022, tercatat US$ 114,55 per barel atau melonjak hingga lebih dari 56 persen dari periode Desember 2021 yang sebesar US$73,36 per barel.

Pertamina, melalui PT Pertamina Patra Niaga, harus menekan beban keuangan Pertamina, selain melakukan efisiensi ketat di seluruh lini operasi.

Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) tidak terelakkan untuk dilakukan namun dengan tetap mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Karenanya, penyesuaian harga dilakukan secara selektif, hanya berlaku untuk BBM Non Subsidi yang dikonsumsi masyarakat sebesar 17 persen, yaitu 14 persen merupakan jumlah konsumsi Pertamax dan 3 persen jumlah konsumsi Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

Sedangkan BBM subsidi, seperti Pertalite dan Solar Subsidi, yang dikonsumsi sebagian besar masyarakat Indonesia sebesar 83 persen, tidak mengalami perubahan harga atau ditetapkan stabil di harga Rp 7.650 per liter. (Tribunbanyumas/jti)

Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved