Berita Jateng

Pupuk Subsidi Terbatas, Pemprov Jateng Sarankan Petani Gunakan Pupuk Organik

Keterbatasan alokasi pupuk subsidi bagi para petani mendesak pemerintah untuk segera mencari alternatif dan jalan keluar.

TRIBUN BANYUMAS/SAIFUL MA'SUM
SEMPROT TANAMAN: Seorang petani di Kabupaten Kendal menyemprotkan obat pengusir hama yang menyerang tanaman padinya, Minggu (12/7/2020). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Keterbatasan alokasi pupuk subsidi bagi para petani mendesak pemerintah untuk segera mencari alternatif dan jalan keluar.

Pasalnya, para petani di berbagai daerah masih mengandalkan pupuk subsidi untuk keberlangsungan usaha tani mereka.

Baca juga: Siap-siap! Guru Ngaji di Jateng Terima Bantuan Rp1,2 Juta Sebelum Lebaran

Kepala Seksi Pupuk dan Pembiayaan Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Asil Tri Yuniati menuturkan, pihaknya selalu menyarankan para petani untuk menggunakan pupuk organik sebagai alternatif keterbatasan pupuk subsidi.

"Kami sering menyarankan bahwa namanya penggunaan pupuk bersubsidi harus secara bijaksana dan optimal.

Kalaupun kebutuhan yang dikehendaki petani itu tidak sesuai dengan apa yang didapat.

Kami sering menyarankan untuk lebih menggunakan pupuk organik," jelas Yuni dalam keterangan tertulis, Rabu (23/3/2022).

Baca juga: Di Lombok, Ganjar Sowan ke Ketua Umum PB Nahdlatul Wathan TGB Zainuddin Atsani

Jawa Tengah, kata Yuni, tertinggi nomor dua terkait alokasi pupuk subsidi secara nasional di bawah Jawa Timur.

Namun, alokasi yang diberikan sesuai usulan elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (eRDKK) hanya 48 persen.

Oleh karena itu Pemprov Jateng ikut mendorong agar petani dapat membuat pupuk organik melalui pelatihan yang diberikan.

"Artinya kan pupuk organik itu bisa dibuat sendiri dari limbah pertanian yang ada.

Kami setiap tahun mengalokasikan juga banyak pelatihan pupuk organik dengan harapan bahwa petani tidak tergantung lagi terhadap pupuk pabrikan atau anorganik," terangnya.

Baca juga: OJK: Penyaluran KUR UMKM di Jateng Terbesar d Indonesia

Terkait isu kelangkaan pupuk, lanjut Yuni, pihaknya membantah bahwa terjadi kelangkaan pupuk di Jawa Tengah.

Lebih tepatnya dia menyebut hal ini sebagai keterbatasan alokasi.

"Kalau bicara realisasi tahun kemarin itu kalau dibandingkan lima tahun belakangan, realisasi 2021 adalah paling rendah.

Jadi, data kami semua jenis pupuk mengalami penurunan sebesar 6,61 persen dengan penurunan paling tinggi di jenis SP36 sebesar 24,20 persen.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved