Berita Semarang
11 Pasien Covid Diduga Varian Omicron Dirawat di Rumdin Wali Kota Semarang, Ini Penjelasan Dinkes
Beredar kabar di grup Whatsapp adanya 11 pasien Covid-19 Omicron di rumah dinas (rumdin) wali kota Semarang.
Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Beredar kabar di grup Whatsapp adanya 11 pasien Covid-19 Omicron di rumah dinas (rumdin) wali kota Semarang.
Menanggapi kabar tersebut, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang Moh Abdul Hakam menyampaikan, memang ada pasien Covid-19 yang dirawat di rumdin.
Namun, hingga saat ini, pihaknya belum mengetahui jenis virus corona yang menginfeksi mereka.
Dinkes masih menunggu hasil whole genome sequencing (WGS).
"Ada pasien Covid-19. Omicron atau bukan, masih menunggu WGS," terang Hakam, saat dihubungi melalui pesan singkat, Minggu (9/1/2021).
Baca juga: Tim Medis Kewalahan Hadapi Siswa SDLB Negeri Semarang, Siapkan Badut Biar Tenang Saat Disuntik
Baca juga: Deretan Kasus Kejahatan Bermotif Dendam di Semarang, Kriminolog: Akibat Pikiran Pendek Pelaku
Baca juga: Dua Pelaku Ini Ngaku Sebagai Anggota Polisi, Peras Korban di Ngaliyan Semarang Gunakan Pistol Mainan
Baca juga: Congyang Hajar Selingkuhan Istri Sirinya, Kapolrestabes Semarang: Dia Lagi Terbakar Api Cemburu
Saat ditanya lebih lanjut mengenai berapa pasien yang saat ini dirawat di rumdin, dia belum memberikan keterangan.
Dikutip dari laman siagacorona.semarangkota.go.id, kasus Covid-19 di Kota Semarang mengalami peningkatan.
Pada Desember lalu, kasus Covid-19 di ibu kota Jawa Tengah sempat mengalami nol kasus.
Namun, mulai Januari, kasus terlihat fluktuatif namun cenderung naik.
Hingga Minggu pukul 13.30 WIB, tercatat ada 18 Covid-19 aktif di Kota Lunpia.
Sebanyak 11 kasus merupakan warga Semarang dan tujuh kasus warga luar kota.
Hakam mengatakan, dampak libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru) belum dapat dilihat secara menyeluruh.
Pihaknya sedang berusaha mencari apakah Nataru berpengaruh terhadap kenaikan Covid-19 aktif di ibu kota Jawa Tengah atau sebaliknya.
Baca juga: Ribuan Ayam Mati Terpanggang dalam Kebakaran di Pagubugan Cilacap, Kerugian Ditaksir Rp 1,23 Miliar
Baca juga: Nama Hendi dan Gibran Muncul di Bursa Pilkada DKI Jakarta, Ini Kata Hasto Soal Potensi Kader PDIP
Baca juga: Ledakan Berujung Kebakaran Melanda Tempat Karaoke Maestro Salatiga, Pengunjung Berhamburan
Baca juga: Pulang Kampung ke Blora, Pratama Arhan Langsung Dikunjungi Bupati yang Bawa Ambulans. Ada Apa?
Menurutnya, dampak Nataru bisa dilihat secara valid jika sudah melewati masa inkubasi selama 14 hari.
"Kalau pertengahan Januari nanti aman, insyaallah tidak ada pengaruhnya. Sekali lagi, kalau kita ngomong Covid-19 maka inkubasi dua minggu. Kalau sekarang disampaikan, belum bisa kami nilai secara cermat dan valid," terangnya.
Dia berharap, tidak ada temuan baru atau kenaikan kasus Covid-19.
Saat ini, Dinkes masih terus melakukan random sampling untuk meminimalkan penyebaran yang lebih meluas.
"Walau sudah divaksin, usia produktif tetap berpotensi menularkan karena mobilitas tinggi. Random sampling kami ambil dari usia produktif yang mobilitasnya tinggi," tambahnya. (*)