PPKM Darurat Jateng
Situasi Masih PPKM Darurat di Banjarnegara, Karyanto Bersyukur Bisa Ngirit dan Libur Kondangan
Tradisi resepsi pernikahan di satu sisi ternyata banyak dikeluhkan lantaran memaksa warga untuk menyumbang uang atau barang ke pemilik hajat.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: deni setiawan
Pernikahan yang sakral bisa disegerakan tanpa harus menunggu banyak modal.
"Karena hanya boleh dihadiri maksimal 7 orang."
"Biaya sedikit, misal hanya untuk sewa gaun biar difoto bagus," katanya.
Libur Kondangan
Bukan hanya meringankan beban keluarga mempelai.
Larangan gelaran hajatan di masa pandemi juga meringankan beban masyarakat karena mereka "libur" kondangan.
Sebelum pandemi, saat situasi normal, Karyanto mengaku pusing saat musim hajatan datang, terutama seusai momentum Idulfitri hingga Iduladha.
Saat itu banyak surat undangan pernikahan berdatangan ke rumahnya.
Ini menuntut keluarganya harus datang ke acara.
Memenuhi undangan berarti harus menyiapkan uang atau barang untuk diberikan ke pemilik hajat.
Padahal, tak jarang, dalam sehari, ia bisa menghadiri beberapa acara pernikahan sekaligus.
Sebagai masyarakat dengan ekonomi pas-pasan, ia tentu keberatan.
Terlebih penghasilannya sehari-hari tak menentu.
Tetapi, ia sebagaimana warga lain, mau tidak mau harus mengikuti tradisi itu meski dengan hati berat.
Pandemi ini, ia cukup lega karena jarang ada undangan ke acara pernikahan.