Breaking News:

PPKM Darurat Jateng

Situasi Masih PPKM Darurat di Banjarnegara, Karyanto Bersyukur Bisa Ngirit dan Libur Kondangan

Tradisi resepsi pernikahan di satu sisi ternyata banyak dikeluhkan lantaran memaksa warga untuk menyumbang uang atau barang ke pemilik hajat.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: deni setiawan
TRIBUN BANYUMAS/KHOIRUL MUZAKKI
Situasi di dalam kantor KUA Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, Rabu (21/7/2021). 

Pemilik hajat pun belum tentu senang lantaran yang diterimanya sejatinya "utang" untuk dikembalikan kemudian waktu.

Sedangkan sumbangan itu sebagian hanya habis untuk menutup modal pesta, semisal menyewa tenda, catering, atau lainnya. 

Pandemi yang meniscayakan larangan bagi warga menggelar hajatan banyak dikeluhkan pengusaha pernikahan.

Mulai dari pemilik tenda atau sound system, rias pengantin, catering, hingga wedding organizer (WO). 

Kebijakan itu membuat pengusaha atau pekerja kehilangan pendapatan karena sepi job. 

Tetapi di sisi lain, tidak adanya gelaran hajatan ternyata bisa melegakan sebagian masyarakat, termasuk keluarga pengantin. 

Rofikoh, calon pengantin asal Desa Prendengan, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara ini sibuk mengurus persiapan pernikahan di KUA Kecamatan Banjarmangu, Rabu (21/7/2021). 

Pandemi dan kebijakan PPKM Darurat yang melarang gelaran hajatan tak menghalanginya untuk menikah pada 25 Juli 2021. 

Karyanto, orang yang mendampingi Rofikoh mengurus pernikahan di KUA mengatakan, meski ada larangan menggelar hajatan, masyarakat di desanya tetap menggelar prosesi pernikahan sesuai protokol kesehatan. 

Larangan menggelar pesta pernikahan, menurut dia, justru memberikan kesempatan bagi keluarga calon pengantin untuk menggelar prosesi pernikahan secara sederhana. 

Halaman
1234
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved