Senin, 11 Mei 2026

Berita Internasional

Presiden Haiti Tewas Ditembak, Libatkan 28 Pembunuh asal Amerika dan Kolombia

Presiden Haiti Jovenel Moise tewas ditembak sejumlah orang, Rabu (7/7/2021).

Tayang:
Editor: rika irawati
AFP/Valerie Baeriswyl
Presiden Haiti Jovenel Moise duduk di Istana Kepresidenan saat wawancara dengan AFP di Port-au-Prince, 22 Oktober 2019. Presiden Haiti Jovenel Moise dibunuh pada 7 Juli 2021, di rumahnya. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PORT-AU-PRINCE - Presiden Haiti Jovenel Moise tewas ditembak sejumlah orang, Rabu (7/7/2021). Polisi mengungkapkan, pembunuhan itu melibatkan 28 anggota regu pembunuh, yang terdiri dari warga Amerika dan Kolombia.

Namun, pihak berwajib setempat baru meringkus 20 pelaku. Delapan orang di antaranya, saat ini, masih buron.

Pada Kamis (8/7/2021), polisi Haiti mengarak para tersangka pembunuhan presiden Jovenel Moise bersama barang bukti, di antaranya pasport Kolombia dan sejumlah senjata.

Kepala Polisi Nasional Haiti Leon Charles bersumpah melacak delapan tersangka lain pelaku pembunuhan.

"Mereka adalah 28 regu pembunuh, 26 orang di antaranya adalah orang Kolombia yang melakukan operasi pembunuhan presiden," kata Charles dalam konferensi pers dii Port-au-Prince, seperti yang dilansir dari AFP, Jumat (9/7/2021).

Baca juga: Tokyo Berstatus Darurat Covid, Sejumlah Pertandingan Olimpiade Digelar Tanpa Penonton

Baca juga: Resmi Jadi Presiden Ke 46 Amerika Serikat, Joe Biden: Tanpa Persatuan, Tidak Ada Perdamaian

Baca juga: China Kirim 3 Astronot ke Luar Angkasa, Punya Misi 3 Bulan Bangun Stasiun Luar Angkasa Tianhe

Baca juga: Memanas, China Rilis Video Berisi Simulasi Serangan ke Taiwan

"Kami telah menangkap 15 orang Kolombia dan dua orang Amerika keturunan Haiti. Tiga orang Kolombia telah terbunuh ketika delapan orang lainnya masih buron," terangnya.

Sebelumnya, pihak berwenang hanya menyebutkan bahwa empat tersangka telah terbunuh. Charles tidak menjelaskan lebih lanjut.

Pihak berwenang belum mengkonfirmasi identitas dua orang Amerika keturunan Haiti. Para pejabat mengatakan, para pembunuh berbicara bahasa Inggris dan Spanyol.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan, tidak dapat mengkonfirmasi bahwa ada warga negara AS yang ditangkap.

Duta Besar Haiti untuk Washington, Bocchit Edmond, mengatakan, para pembunuh adalah tentara bayaran "profesional" yang menyamar sebagai agen Administrasi Penegakan Narkoba AS.

Menurut juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price, Haiti telah meminta bantuan AS dalam penyelidikannya.

"Kami mengetahui permintaan Polisi Nasional Haiti untuk bantuan investigasi dan Amerika Serikat meresponsnya," kata Price kepada wartawan.

Menteri Pertahanan Kolombia Diego Molano mengatakan, setidaknya, enam anggota regu pembunuh diduga adalah mantan tentara Kolombia.

Dia telah memerintahkan militer dan polisi Kolombia untuk membantu investigasi.

Pada Rabu, Haiti, negara termiskin di Amerika, mengalami kekacauan politik setelah presiden Jovenel Moise ditembak mati dan istrinya terluka di rumahnya.

Baca juga: Kasus Covid Melonjak, Pemkot Salatiga Siapkan 250 Liang Lahat Baru di TPU Ngemplak

Baca juga: Prihatin Banyak Rekannya Tak Kebagian Kamar, Wasekjen PAN Ini Usul Rumah Sakit Covid Khusus Pejabat

Baca juga: Lewat Medsos, Presiden Jokowi Beri Semangat Nakes: Terima Kasih Telah Bekerja Keras Tangani Covid

Baca juga: Lalu Lintas Jateng-Jabar di Cilacap Diperketat, Penyekatan Dilakukan di 2 Kecamatan

Sementara, ada dua orang yang mengaku bertanggung jawab sebagai perdana menteri.

Pembunuhan presiden ini pun sempat mengundang tanya tentang keberadaan petugas keamanan yang dinilai gagal melindungi presiden.

Insiden tersebut sempat membuat ibu kota Port-au-Prince lumpuh. Sejumlah toko, bank, dan pom bensin ditutup.

Begitu pula bandara utama Haiti. Tetapi, rencananya, tempat-tempat tersebut dibuka lagi Jumat (9/7/2021).

Sementara, perbatasannya dengan negara tetangga Republik Dominika, di pulau Hispaniola, ditutup.

Di mana keamanan presiden?

Haiti mengadakan hari berkabung selama dua pekan atas kematian Presiden Jovenel Moise.

"Jovenel Moise tidak terlalu populer tetapi dia adalah presiden. Dia tidak dapat dibunuh, seperti warga negara biasa," ujar seorang pria di Port-au-Prince, yang hanya menyebutkan namanya adalah Paul.

Seorang wanita berusia 28 tahun bernama Julia mengatakan, dia ragu terhadap klaim bahwa tentara bayaran asing membunuh presiden.

"Di mana polisi yang dilengkapi dengan baik yang mengawasi presiden siang dan malam? Mengapa mereka tidak bereaksi?" tanyanya heran.

Jaksa memiliki pertanyaan yang sama.

"Saya telah memberi (polisi) kekuatan untuk mewawancarai semua agen keamanan yang dekat dengan Presiden Jovenel Moise," kata komisaris pemerintah Port-au-Prince Bed-Ford Claude pada Kamis (8/7/2021).

"Jika Anda bertanggung jawab atas keamanan presiden, di mana Anda? Apa yang Anda lakukan untuk menghindari nasib presiden ini?" kata Claude. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Polisi: Presiden Haiti Ditembak Mati 28 Anggota Regu Pembunuh dari Amerika dan Kolombia".

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved