Berita Jawa Tengah
Mengintip Budaya Ngelelet di Lasem Rembang, Melukis Pola Batik di Batang Rokok Gunakan Ampas Kopi
Memakai batang korek api yang diruncingkan ujungnya, Nur Kholis tampak terampil menggoreskan motif batik pada batang rokok.
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: deni setiawan
Menurut dia, hampir di setiap desa, setiap kampung, di Lasem pasti ada warung kopi.
“Bahkan di Rembang, lomba ngelelet atau membatik rokok sering diadakan."
"Seperti dari perusahaan rokok, juga oleh EO yang mengadakan event musik,” kata dia.
Nur Kholis menjelaskan, kopi yang bisa dipakai untuk ngelelet ialah kopi murni yang digiling sebanyak 3 sampai 7 kali, sehingga teksturnya sangat halus.

Baca juga: Polsek Cilongok Banyumas Di-Lockdown, Layanan SKCK dan Pelaporan Dialihkan ke Mobil BLKK
Baca juga: 30 Relawan di Banyumas Ikuti Pelatihan Reaksi Cepat Penanganan Bencana, Ini Materi yang Didapat
“Setelah kopi diseduh, dituang di lepek, diamkan sebentar, airnya diminum atau dimasukkan lagi ke cangkir."
"Kemudian ampas ini diberi tisu untuk mengurangi kadar airnya."
"Setelah itu kami beri susu kental manis atau gula Jawa sebagai perekat, kalau tanpa itu mudah rontok."
"Kemudian kami aduk sampai merata, baru diaplikasikan pada rokok,” kata dia.
Dia menambahkan, tingkat kekentalan ampas rokok mesti disesuaikan dengan hasil yang diinginkan.
“Kalau melukis dengan tusuk gigi atau batang korek harus jangan terlalu encer, kalau ngeblok atau menggunakan benang harus encer."
"Biasanya menggunakan benang kami celupkan, kaitkan ke rokok lalu ditarik untuk mendapat efek gradasi tebal-tipis,” tutur Nur Kholis.
Sementara, anggota DPD ASITA DIY, Meyra Marianti menilai, ngelelet rokok sebagai kegiatan yang mendukung pariwisata di Lasem Rembang.
“Satu destinasi bisa berkembang karena ada keunikan yang tidak sama dengan destinasi lain."
"Terlebih ngelelet ini telah menjadi napas, keseharian masyarakat setempat."
"Luar biasa, melalui ini bisa memberdayakan masyarakat lokal."