Breaking News:

Teror Virus Corona

2 RT di Jetis Sragen Di-lockdown: 35 Warga Positif Covid-19, Tertular dari Tamu asal Jakarta

Muncul tiga klaster baru di Sragen yang membuat puluhan orang terpapar virus corona dan mengakibatkan beberapa orang meninggal dunia.

TRIBUNBANYUMAS/MAHFIRA PUTRI MAULANI
Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati didampingi Wakil Bupati Dedy Endriyatno ketika ditemui di Sragen, Senin (3/5/2021). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SRAGEN – Kasus Covid-19 di Kabupaten Sragen, melonjak beberapa pekan terakhir. Muncul tiga klaster baru yang membuat puluhan orang terpapar virus corona dan mengakibatkan beberapa orang meninggal dunia.

Wakil Bupati Sragen Dedy Endriyatno mengatakan, tiga klaster tersebut adalah klaster SMA Negeri 1 Gondang Sragen, klaster layatan di Desa Jetis, Kecamatan Sambirejo; dan klaster masjid di Desa Pelemgadung, Kecamatan Karangmalang.

"Kasus di SMA Gondang, seharusnya sudah menjadi perhatian kita. Satu sekolah, satu wilayah sempit, ada 10 orang yang positif dan empat orang meninggal dunia. Ini kasus luar biasa," kata Dedy.

Baca juga: Aksi Bobol Kotak Amal Warga Srawung Sragen Berakhir, Tertangkap saat Berniat Mencuri di Lokasi Ke-16

Baca juga: 9 Pasangan Bukan Suami Istri Terjaring Ngamar di Dua Hotel di Sragen, Ada yang Berumur 17 Tahun

Baca juga: Tiga Guru SMA Negeri 1 Gondang Sragen Meninggal Akibat Covid, Sekolah Ditutup 14 Hari

Baca juga: 7 Guru di Sragen Positif Covid dan 2 Meninggal, Uji Coba Sekolah Tatap Muka Dihentikan

Dedy mengatakan, pihaknya telah meminta pihak kecamatan terus meningkatkan kewaspadaan agar tak muncul klaster baru. Termasuk, klaster hajatan dan layatan.

Dia pun tak henti mengingatkan warga agar terus menerapkan protokol kesehatan.

"Sebenarnya, tidak kurang-kurang kami menghimbau masyarakat soal memperkuat kembali protokol kesehatan. Faktanya, di beberapa negara, termasuk Indonesia, mengalami kenaikan kasus. Apalagi, kita sedang menghadapi bulan puasa ini dan sebentar lagi lebaran," kata Dedy.

Sementara, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengatakan, ada sejumlah faktor pemicu lonjakan kasus. Di antaranya, adanya kelonggaran.

Mulai dari kehidupan sosial ekonomi yang kembali menggeliat, hajatan yang sudah diperbolehkan, hingga pendatang baru atau pemudik yang nekat pulang meskipun dilarang.

"Analisa saya, karena sudah ada kelonggaran. Kegiatan ekonomi sudah jalan kemudian hajatan juga sudah boleh dan sekarang, walaupun dilarang, orang yang mudik masih tetap ada," kata Yuni.

Seperti, di klaster Desa Jetis, Yuni mengatakan, penyebaran Covid-19 berawal dari desa tersebut kedatangan tamu dari Jakarta yang ternyata positif Covid-19.

Halaman
12
Penulis: Mahfira Putri Maulani
Editor: rika irawati
Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved