Berita Banjarnegara
SD Terpencil di Banjarnegara Tak Lagi Terkendala Internet, Pembelajaran Gunakan Satelit LAPAN
Dalam uji coba SSTV ini, mereka bekerja sama dengan LAPAN RI dan AMSAT-ID melalui Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI).
Penulis: khoirul muzaki | Editor: deni setiawan
TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Di daerah perkotaan, penerapan pembelajaran dalam jaringan (daring) mungkin tidak jadi soal.
Tetapi bagi masyarakat di pedesaan terpencil, pelaksanaan pembelajaran dengan cara itu jadi ujian tersendiri bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Seperti halnya di SD Negeri 4 Kalisat Kidul, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara.
Di desa terpencil itu, jaringan telepon maupun internet sangat susah.
Baca juga: 23 Desa Terima Dana Hibah Upland, Bupati Banjarnegara: Gunakan Secara Cermat, Jangan Dikorupsi
Baca juga: Tiang Jembatan Ambrol di Penusupan Banjarnegara, Hanya Motor dan Pejalan Kaki yang Boleh Melintas
Baca juga: Evakuasi Butuh Waktu 10 Jam, Mobil Boks Es Krim yang Terseret Longsor di Plumbungan Banjarnegara
Baca juga: DAK Pertanian di Banjarnegara, Tahun Ini Diterimakan Kepada 14 Kelompok Tani, Berikut Rinciannya
Ini jelas menghambat para siswa dan guru yang dituntut menggunakan jaringan internet untuk mendukung pembelajaran.
Beruntung, mahasiswa peserta program Kampus Mengajar di SD Negeri 4 Kalisat Kidul, datang menawarkan solusi atas persoalan itu.
Sabtu (3/4/2021), mereka melakukan uji coba berkirim media pembelajaran melalui SSTV Satelit IO-86 LAPAN A2 ORARI.
Para mahasiswa itu tengah menjalankan program Kemendikbud untuk membantu pembelajaran di SD Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T).
Di Kabupaten Banjarnegara, sekira 100 mahasiswa yang diterjunkan di 16 SD dengan klasifikasi 3T.
Havid Adhitama, mahasiswa PGSD Unnes yang bertugas di SD Negeri 4 Kalisat Kidul mengatakan, uji coba SSTV ini bukan tanpa alasan.
SD Negeri 4 Kalisat Kidul, menurut dia, benar-benar terisolasi dari sinyal komunikasi digital.
“Di sini sinyal untuk akses internet tidak ada, jangankan internet, untuk SMS saja tidak bisa," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Selasa (6/4/2021).
Siswa dan guru bahkan sulit berkomunikasi maupun mengakses media dari daerah lain.
Padahal, untuk mengambil LK atau bahan pembelajaran menuju ke daerah lain, akses jalan cukup sulit.
Havid dan rekan satu timnya, Faris, Ismi, serta Dwi akhirnya berinisiatif melakukan uji coba berkirim media melalui mode SSTV.