Berita Banjarnegara
Saat Harga Gabah Anjlok, Petani di Banjarnegara Ini Bisa Jual Beras Rp 25 Ribu/Kg. Ini Rahasianya
Meski mengaku prihatin mendengar harga gabah petani dihargai murah, Bayyinah mengatakan, harga gabah padi organik tak berubah.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Petani padi di sejumlah wilayah resah lantaran harga jual gabah anjlok di tengah kabar impor beras. Namun, polemik ini tak mempengaruhi petani padi organik.
Bayyinah, petani asal Desa Merden, Kecamatan Purwanegara, Banjarnegara, contohnya.
Meski mengaku prihatin mendengar harga gabah petani dihargai murah, perempuan 66 tahun ini mengatakan, harga gabah padi organik tak berubah.
Menurut Bayyinah, harga gabah kering biasa di desanya dihargai Rp 3300 per kilogram.
"Tapi, saya jual Rp 6500 per kilogram gabah kering (organik), " katanya, Rabu (31/3/2021).
Baca juga: Kisah Bocah Penderita Hidrosefalus di Kebondalem Banjarnegara, Dwi Aryanto Juga Kekurangan Gizi
Baca juga: Senyum Rahma, Gadis Pelukis Banjarnegara dapat Bantuan Kursi Roda dan Pijatan Alternatif setiap Hari
Baca juga: Politeknik Banjarnegara Beri Peluang Siswa SMA Belajar Agro Industri di Kampus, Siap ke Dunia Kerja
Baca juga: Sembilan Pasangan Seketika Panik Saat Polisi Datang, Bukan Pasutri Lagi Ngamar di Banjarnegara
Jenis padi yang dijual Bayyinah cukup familiar, yakni mentik susu dan pandanwangi.
Namun, proses penanamannya menggunakan sistem organik. Dia tak menggunakan pupuk dan pestisida kimia tetapi organik dari mikroorganisme.
Sudah 10 tahun Bayyinah menanam padi menggunakan sistem ramah lingkungan ini.
Siapa sangka, padi yang dihasilkannya memiliki nilai jual lebih tinggi di pasaran.
Padi organik juga banyak diburu masyarakat karena dianggap lebih aman dikonsumsi dari sisi kesehatan.
"Produk organik lebih sehat. Saya merasakan sendiri," katanya.
Karena permintaan pasar yang tinggi itulah, Bayyinah tak khawatir dengan isu impor beras atau anjloknya harga gabah di pasaran.
Ia sudah memiliki pasar tersendiri untuk menjual produk pertaniannya.
Bahkan, saat ini, di tengah anjloknya harga gabah di pasaran, ia menaikkan harga jual beras organik dari Rp 15 ribu per kilogram menjadi Rp 25 ribu per kilogram.
Baca juga: Gelar Seminar, MUI dan TP PKK Banyumas Bedah Pernikahan Anak dari Sisi Agama Islam dan Kesehatan
Baca juga: Oppo Kenalkan Ponsel Seri A54: Punya Warna dan Desain Stylish, Cocok untuk Anak Muda
Baca juga: Pemuda Ini Bawa Kabur Motor Teman Wanitanya setelah Check In di Hotel di Baturraden Banyumas
Baca juga: Ibadah Rangkaian Paskah di 35 Gereja di Purbalingga Bakal Dijaga Ketat Polisi dan Tim Gabungan
Ia pun yakin, konsumennya tidak keberatan dengan keputusannya itu.
Ia tidak seperti petani lain yang tidak memiliki posisi tawar di hadapan tengkulak.
Dengan produknya yang telah teruji, Bayyinah bisa menentukan harga produknya sebelum diserap pasar tanpa bergantung dengan tengkulak.
"Saya tidak pakai tengkulak. Langsung jual ke konsumen. Makanya, bisa tentukan harga sendiri," katanya. (*)