Penanganan Corona
Jawa Diusulkan Lockdown, Gubernur Ganjar: Yang Dibutuhkan Sebenarnya Dukungan Masyarakat
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menilai, usulan lockdown Jawa tak akan bermanfaat jika tak ada dukungan dari masyarakat.
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Tingginya kasus Covid-19 di sejumlah daerah, tak terkecuali Jawa Tengah, membuat sejumlah pihak mengusulkan lockdown di Jawa. Terkait usulan ini, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menilai, usulan tersebut tak akan bermanfaat jika masyarakat tak tertib dan mendukung.
Menurut Ganjar, sudah banyak negara yang menggunakan teori lockdown namun belakangan, kasus Covid-19 kembali muncul.
"Sebenarnya, kalau pakai teori itu, sudah banyak juga. Ada yang sudah pernah lockdown, gitu kan, tapi muncul lagi. Sekarang ada banyak pertimbangan, yang dibutuhkan itu sebenarnya dukungan masyarakat," kata Ganjar di kantornya, Rabu (27/1/2021).
• Vaksinasi Covid di Jateng Sudah Serentak, 1 Penerima Sempat Pingsan seusai Divaksin
• 130 Anggota DPRD Fraksi PKS se-Jateng Sumbangkan Gaji Januari untuk Korban Bencana
• Tren Positif PPKM Jilid Pertama di Jateng, Tingkat Keterisian Kamar Isolasi di Bawah 70 Persen
• Pemprov Jateng Terima Lagi Vaksin Covid, Ini 12 Kabupaten/Kota yang Segera Lakukan Vaksinasi
Ganjar menegaskan, pernyataan soal lockdown itu gampang, akan tetapi, banyak persoalan yang harus diselesaikan dengan adanya kebijakan itu.
"Statement lockdown itu gampang. Harus lockdown. Oke. Tapi kan turunannya kan banyak yang harus diselesaikan. Memang banyak diskusi tapi oh tidak semudah itu. Benturan-benturan mesti kita eliminasi. Idealnya begitu (lockdown) tapi kalau nggak bisa, ya kita ambil grade yang kedua," tegasnya.
Ganjar mengatakan, hari ini, yang dibutuhkan adalah edukasi dan sosialisasi serta dukungan masyarakat.
"Maka, makin tegas makin penting. Kalau aturan sudah dipertegas, efek jera perlu ditingkatkan. Sanksi denda itu penting maka kemarin yang kaitan dengan bisnis ada adaptasinya tapi tertib," ucapnya.
Ia mencontohkan, restoran, mal, pasar, rumah makan, semuanya ditata dengan protokol kesehatan yang ketat maka itu bisa berdampak positif.
"Sebenarnya, semuanya bisa untuk tertib. Kalau sebelumnya di restoran itu ada 50 kursi, dipangkas jadi 20 dan ditata dengan jarak dan diberikan partisi. Kalau semua sadar dan mendukung, sebenarnya bisa. Sambil pemerintah mengedukasi dan mengontrol," imbuhnya.
Sebagai informasi, sejumlah pihak mendesak pemerintah melakukan perubahan dalam penanganan Covid-19 agar tidak bertambah parah.
• Uang Koin Rp 1000 Tersangkut Ditenggorokan, Bocah 3 Tahun Asal Magelang Dilarikan ke RSUP Dr Kariadi
• Gunung Merapi Meletus, Sejumlah Desa di Boyolali Alami Hujan Abu Tipis
• Tak Kapok, Residivis Penggelapan Mobil Rental asal Purbalingga Gondol Mobil Warga Sokaraja Banyumas
• Candi Cetho dan Candi Sukuh Masih Tutup selama Perpanjangan PPKM Karanganyar
Terbaru, seorang epidemolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mendesak pemerintah melakukan mekanisme lockdown.
Jika tidak bisa secara keseluruhan, Dicky meminta lockdown dilakukan di seluruh pulau Jawa. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ada Wacana soal "Lockdown" Jawa, Ganjar: Oh Tidak Semudah Itu".