Sabtu, 18 April 2026

Berita Nasional

Dikira Tsunami, Gelombang Tinggi Hantam Pesisir Manado Hingga Masuk Parkiran Mal

Bahkan, Minggu (17/1/2021) sore, gelombang tinggi yang dinilai mirip tsunami menerjang kawasan pesisir Pantai Manado.

Editor: rika irawati
Tribun Manado/Istimewa
Ombak tinggi hingga masuk ke badan jalan terjadi di Kawasan Megamas, Manado, Minggu (17/1/2021). 

TRIBUNBANYUMAS.COM - Cuaca ekstrem melanda Manado, Sulawesi Utara, hingga mengakibatkan longsor dan gelombang tinggi.

Bahkan, Minggu (17/1/2021) sore, gelombang tinggi yang dinilai mirip tsunami menerjang kawasan pesisir Pantai Manado.

Saat menerjang kawasan tersebut, gelombang setinggi 3-4 meter itu juga membawa material kerikil.

Akibat tingginya gelombang pasang itu, air laut diketahui hingga masuk ke jalan raya dan merendam parkiran mal serta pertokoan.

Sejumlah warga di kawasan tersebut terlihat panik saat air mulai tinggi. Beruntung, kejadian itu tidak menimbulkan korban jiwa.

Kesaksian warga

Karyawan Ace Hardware Mantos, Ivana mengatakan, gelombang tinggi di pantai itu sudah terjadi sejak sore hari.

Namun, karena saat itu air belum sampai meluap ke jalan dan pertokoan, para pengunjung tak mempedulikan.

Baca juga: Gelombang Tinggi Hantam Tanggul Pantai Sari Pekalongan Hingga Jebol, Air Laut Masuk Permukiman

Baca juga: Gelombang Tinggi Rusak 15 Kapal Nelayan di Tambaklorok Semarang, Nelayan Pilih Bekerja di Proyek

Baca juga: Gelombang Tinggi Mulai Mengancam: 5 Kapal Nelayan di Pati Tenggelam, Ditambat di Dermaga Banyutowo

Semakin malam, air laut diketahui mulai masuk dan kian meninggi. Mengetahui hal itu, para pengunjung histeris dan mulai panik ingin menyelamatkan kendaraan.

"Ini yang bikin panik pengunjung karena sudah banyak air di pintu masuk. Jadi, banyak yang keluar ke parkiran," kata dia dilansir dari Tribun Manado.

Sementara itu, Ketua Kelompok Nelayan Firdaus, Sonny Broo mengatakan, akibat terjangan gelombang tinggi itu, enam perahu nelayan rusak parah.

Bahkan, beberapa perahu diketahui hingga terseret di parkiran tempat makan.

Gelombang tinggi tersebut, kata dia, jarang terjadi di pantai tersebut.

"Seingat saya, sejak 1974, baru sekarang ini yang paling parah," kata Sonny.

"Ombak sudah bisa lebih dari empat meter tingginya. Beberapa perahu kami rusak ringan dan masih bisa diperbaiki dengan biaya Rp 600.000. Tapi, enam yang rusak itu sudah tidak terselamatkan," jelasnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved